Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA ini, proses kelahiran bintang terselimuti misteri. Bintang-bintang baru lahir di dalam awan gas dan debu yang sangat tebal, sehingga mustahil diamati menggunakan teleskop cahaya tampak biasa. Namun, lewat penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Astronomy & Astrophysics pada 24 April, para astronom radio berhasil "menembus" tabir tersebut untuk mengungkap salah satu rahasia paling fundamental di alam semesta: massa bintang.
Bintang lahir dari fragmentasi awan molekul hidrogen yang kolaps akibat gravitasi. Namun, bagaimana bintang-bintang muda ini tumbuh dan apa yang menentukan massa akhir mereka sebelum mulai bersinar, selalu menjadi tantangan besar bagi ilmuwan. Hal ini dikarenakan bayi bintang tersebut terkubur jauh di dalam awan gelap pada usia yang sangat muda, yakni sekitar beberapa ratus ribu hingga satu juta tahun.
Massa adalah properti paling krusial bagi sebuah bintang. Evolusi masa depan, tingkat kecerahan, suhu, hingga usia bintang sepenuhnya bergantung pada massanya.
"Massa bintang adalah properti yang paling mendasar dari sebuah bintang, namun sangat sulit untuk diukur bagi sistem yang masih tertanam di dalam awan (gas dan debu) muda," ujar pemimpin penelitian, Sergio A. Dzib Quijano, dari Max Planck Institute for Radio Astronomy di Jerman.
Berbeda dengan cahaya tampak yang terhalang debu, gelombang radio dapat melintas tanpa hambatan. Tim peneliti memanfaatkan Very Long Baseline Array (VLBA), jaringan teleskop radio raksasa di Amerika Serikat,untuk memantau sistem bintang biner (dua bintang yang saling mengorbit) di Kompleks Molekul Orion, wilayah pembentukan bintang yang berjarak sekitar 1.300 tahun cahaya dari Bumi.
Dengan melacak kecepatan dan periode orbit dari 15 sistem biner, para astronom dapat menghitung massa bintang-bintang tersebut menggunakan prinsip fisika dasar. Hasilnya, tim berhasil menentukan massa bintang secara akurat pada tujuh sistem biner.
Menariknya, pada empat sistem di antaranya, pengukuran dilakukan secara murni berdasarkan data observasi, tanpa bergantung pada bantuan model teoretis. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar massa bintang tersebut cocok dengan prediksi teori saat ini, meski tetap diperlukan penyempurnaan lebih lanjut.
Temuan ini memberikan dampak besar bagi pemahaman kita tentang bagaimana lingkungan bintang, termasuk tata surya kita sendiri, terbentuk.
"Pengukuran massa yang akurat ini sekarang mengubah Orion menjadi laboratorium presisi untuk menguji bagaimana bintang muda terbentuk dan berevolusi," kata Jazmin Ordonez-Toro dari Universidad Nacional Autónoma de México, penulis kedua dalam penelitian tersebut. "Pengukuran ini memperluas pemahaman kita tentang bagaimana lingkungan bintang seperti milik kita dibangun."
Melalui data ini, para astronom kini memiliki fondasi yang lebih kuat untuk memahami mengapa alam semesta lebih banyak menghasilkan bintang bermassa rendah, seperti kerdil merah, dibandingkan bintang bermassa besar yang langka namun sangat terang. (Space/Z-2)
Fenomena TLP ini telah membingungkan para astronom selama berabad-abad. Bentuknya bisa beragam: dari kilatan cahaya, bercak merah keunguan
Penemuan air berat di sekitar bintang muda V883 Orionis menunjukkan bahwa air tersebut lebih tua dari bintangnya sendiri.
Nebula Orion, area pembentukan bintang terbesar dan terdekat dari Bumi, kembali menjadi sorotan dalam dunia astronomi melalui pengamatan terbaru dari Teleskop Luar Angkasa Hubble.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved