Mahasiswa Harvard Ciptakan Sinceerly AI Anti-Grammarly untuk Typo Manusiawi

Intan Safitri
27/4/2026 14:18
Mahasiswa Harvard Ciptakan Sinceerly AI Anti-Grammarly untuk Typo Manusiawi
Ilustrasi, Sinceerly.(Dok. Freepik)

DI tengah banjir teknologi yang mengejar kesempurnaan tata bahasa, seorang mahasiswa Harvard Business School justru mengambil langkah sebaliknya. Ben Horwitz meluncurkan sebuah ekstensi peramban unik bernama Sinceerly. Alat yang dijuluki sebagai "Anti-Grammarly" ini bekerja dengan cara yang tidak lazim: sengaja merusak kualitas tulisan agar terlihat lebih autentik.

Sinceerly menggunakan kecerdasan buatan atau teknologi AI untuk menyisipkan kesalahan pengetikan (typo), menghilangkan penggunaan huruf kapital yang kaku, dan menyederhanakan struktur bahasa. Tujuannya jelas, yakni agar email atau pesan yang dihasilkan AI tidak terdeteksi sebagai "AI slop" atau sampah digital yang membosankan.

Melawan Standar Kesempurnaan AI

Berdasarkan laporan yang dihimpun pada akhir April 2026, Horwitz menciptakan alat ini karena merasa jengah dengan pola komunikasi digital saat ini. Ia mengamati bahwa email yang masuk kini memiliki pola bahasa yang identik, khas output dari ChatGPT atau Claude.

Menurut Horwitz, tulisan yang terlalu sempurna, sangat rapi, dan formal justru menjadi indikator utama bahwa pesan tersebut tidak ditulis oleh tangan manusia. "Kesempurnaan justru menjadi musuh dari autentisitas di era AI," ungkapnya.

Secara teknis, Sinceerly AI beroperasi menggunakan model bahasa Claude dari Anthropic. Pengguna diberikan fleksibilitas dengan tiga tingkatan penyuntingan:

  • Subtle (Halus): Penyesuaian ringan agar teks tidak terlalu kaku.
  • Human (Manusiawi): Menambahkan ritme tulisan layaknya manusia pada umumnya.
  • Mode CEO: Tingkatan paling ekstrem di mana teks diubah menjadi huruf kecil semua, sangat singkat, dan penuh dengan kesalahan ketik yang mencerminkan gaya komunikasi eksekutif yang sangat sibuk.

Uji Coba pada Eksekutif Fortune 500

Untuk membuktikan efektivitas metodenya, Horwitz melakukan eksperimen nyata dengan mengirimkan email hasil kurasi Sinceerly kepada lima CEO dari perusahaan yang masuk daftar Fortune 500. Hasilnya cukup mengejutkan: empat dari lima CEO tersebut memberikan respons balik.

Menariknya, balasan yang diterima Horwitz juga memiliki pola serupa—pendek, memiliki typo, bahkan ada yang salah menyebutkan namanya. Temuan ini memperkuat tesis bahwa di dunia korporat yang serba cepat, kesalahan ketik justru dianggap sebagai bukti autentik bahwa pengirimnya adalah manusia sungguhan yang mengetik secara manual di sela kesibukan, bukan sekadar perintah copy-paste ke bot.

Fenomena ini menunjukkan pergeseran nilai dalam komunikasi digital, di mana ketidaksempurnaan mulai dihargai sebagai bentuk kejujuran intelektual.

Paradoks Teknologi Manusiawi

Kini, Sinceerly telah tersedia sebagai ekstensi Chrome dengan sistem langganan jika diakses dari Indonesia. Horwitz menyebut fenomena ini sebagai "lingkaran gila" teknologi: manusia menggunakan AI untuk menulis pesan, lalu menggunakan AI lain untuk menghapus jejak AI tersebut agar terlihat manusiawi.

Para pakar teknologi menilai kehadiran Sinceerly sebagai sinyal kejenuhan masyarakat terhadap standar komunikasi robotik. Kehadiran typo yang terkontrol kini dipandang sebagai bentuk kejujuran digital dan upaya untuk membangun koneksi yang lebih tulus di tengah banjir konten otomatis yang impersonal. (Fast Company dan Live Mint/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya