Misteri "Kematian" Galaksi, Mengapa Pabrik Bintang Tiba-tiba Berhenti Beroperasi?

Thalatie K Yani
26/4/2026 13:15
Misteri
Astronom mengungkap alasan di balik fenomena 'rapid quenching', di mana galaksi berhenti membentuk bintang secara mendadak. Ternyata, naskah kosmiknya lebih rumit!(NASA)

KEMATIAN sebuah galaksi bukanlah proses yang tenang dan perlahan. Alih-alih memudar secara bertahap, pabrik-pabrik pencipta bintang yang dulunya aktif menghasilkan jutaan matahari bisa berhenti secara mendadak. Fenomena mengejutkan ini dikenal oleh para astronom sebagai rapid quenching atau pemadaman cepat.

Sistem ini disebut sebagai galaksi post-starburst. Bagi para ilmuwan, galaksi-galaksi ini ibarat tempat kejadian perkara (TKP) kosmik. Mereka baru saja mengalami lonjakan pembentukan bintang yang masif, namun tiba-tiba berhenti total.

"Ini seperti menemukan ruang dansa di mana musik baru saja berhenti, lampu padam, dan semua orang pergi dengan tergesa-gesa," ungkap gambaran para peneliti mengenai sunyinya galaksi ini.

Melacak Jejak Bahan Bakar yang Hilang

Galaksi post-starburst tergolong langka, mencakup kurang dari 1% dari seluruh galaksi di alam semesta. Kelangkaan inilah yang membuat mereka sulit dipelajari. Selama bertahun-tahun, metode observasi lama sering kali melewatkan gambaran utuh tentang mengapa hal ini terjadi.

Kunci utama pembentukan bintang adalah gas dingin, spesifiknya hidrogen molekuler. Tanpa gas ini, bintang tidak bisa lahir. Melalui studi terbaru bertajuk EMBERS I, tim internasional yang dipimpin oleh Ben F. Rasmussen dari University of Victoria melakukan investigasi menyeluruh menggunakan teknologi tercanggih.

Tim peneliti menggunakan dua "alat detektif" raksasa

Teleskop FAST di Tiongkok: Piringan raksasa berdiameter 500 meter ini digunakan untuk melacak hidrogen atomik.
Teleskop IRAM 30 meter: Digunakan selama hampir 189 jam untuk mendeteksi karbon monoksida (CO), yang menjadi pelacak keberadaan gas molekuler.

Hasil Investigasi: "Camilan Kosmik" yang Habis

Hasil studi EMBERS I mengungkapkan sebuah pola yang jelas: rata-rata galaksi post-starburst memang mengalami kekurangan hidrogen molekuler yang drastis. Kandungan gasnya 0,3 hingga 0,6 kali lebih sedikit dibandingkan galaksi sehat yang masih aktif membentuk bintang.

Sederhananya, "pesta" berakhir karena bar camilan kosmiknya sudah kosong. Galaksi tersebut kehabisan bahan bakar utama untuk menciptakan bintang baru.

Apakah Ini Akhir Selamanya?

Namun, temuan ini juga menunjukkan keragaman yang menarik. Tidak semua galaksi post-starburst benar-benar tandus. Beberapa di antaranya ternyata masih memiliki cadangan gas molekuler yang cukup besar, berkisar antara 2% hingga 250% dari massa bintangnya.

Hal ini memberikan implikasi besar bagi pemahaman kita tentang evolusi alam semesta. Artinya, tidak ada satu mekanisme tunggal yang menyebabkan kematian galaksi. Bagi sebagian galaksi, pemadaman ini mungkin bersifat permanen dan tidak dapat diubah. Namun bagi yang lainnya, masih ada kemungkinan untuk "rejuvenasi" atau peremajaan, sebuah babak kedua di mana pembentukan bintang bisa dimulai kembali di masa depan.

Investigasi ini membuktikan bahwa di balik kegelapan galaksi yang mati, selalu ada cerita kompleks tentang bagaimana energi dan materi berinteraksi di ruang hampa yang luas. (Space/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya