Pakar IT, Praktisi, hingga Akademisi Sepakat, Kedaulatan Digital Perlu Diperkuat lewat Open Source

Ardi Teristi Hardi
25/4/2026 17:15
Pakar IT, Praktisi, hingga Akademisi Sepakat, Kedaulatan Digital Perlu Diperkuat lewat Open Source
Ilustrasi(MI/ARDI TERISTI)

PENGGUNAAN open source di dalam negeri harus diperkuat demi kedaulatan digital tanah air. Di sisi lain, pengembangan open source dalam negeri dapat menghemat anggaran negara dan bisa digunakan untuk pengembangan talenta muda digital di dalam negeri.

Pakar Teknologi Informasi sekaligus pendiri Onno Center, Prof. Onno W. Purbo menyampaikan, kedaulatan digital perlu diperkuat melalui pemanfaatan teknologi open source dan cloud lokal. Ia mengatakan, langkah yang dilakukan adalah dengan penguatan kedaulatan data di sektor pemerintah, pendidikan, dan industri teregulasi. 

Institusi didorong untuk mengelola infrastruktur secara mandiri menggunakan teknologi seperti Ubuntu, OpenStack, dan Kubernetes, guna memastikan kontrol atas lokasi data, privasi, serta kepatuhan terhadap regulasi di Indonesia.

"Menempatkan teknologi terbuka sebagai fondasi sangat penting untuk memperkuat kemandirian data, keamanan siber, dan tata kelola digital yang transparan," terang dia saat Cloud Regional Open Source Summit (CROSS) Indonesia 2026 digelar di Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJAYA), Gamping, Sleman, Sabtu (25/4).

Pendekatan ini, lanjut pria yang saat ini menjabat Rektor Institut Tangerang Selatan (ITTS), dinilai relevan dengan arah kebijakan nasional yang mendorong penguatan kontrol terhadap data serta pengembangan infrastruktur digital berbasis teknologi terbuka.

Ia mengatakan, forum ini juga menekankan pentingnya dukungan terhadap agenda kedaulatan digital nasional, sejalan dengan berbagai kebijakan pemerintah termasuk regulasi presiden, program Kementerian Komunikasi dan Digital, serta implementasi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) No. 27 Tahun 2022 . Salah satu dorongan utama adalah migrasi dari platform cloud proprietary menuju sistem terbuka yang dapat dikelola secara lokal.

Penguatan ekosistem cloud lokal menjadi sangat penting, dengan menampilkan peran penyedia cloud nasional berbasis open source serta mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, engineer cloud, dan developer dalam membangun platform digital yang berdaulat.

Aspek perlindungan data juga menjadi sorotan melalui penerapan arsitektur terbuka, termasuk praktik DevSecOps, keamanan berbasis Linux, serta pemanfaatan tools observabilitas cloud. Pendekatan ini dinilai mampu menghadirkan ketahanan sistem, transparansi, dan kepatuhan terhadap standar regulasi.

Implementasi open source oleh industri teknologi informasi hingga korporasi bisnis keuangan juga menjadi cerminan peluang karier bagi para talenta muda digital Indonesia.

Untuk itu, para pemangku kepentingan dari pemerintah, industri, akademisi, hingga komunitas teknologi dipertemukan untuk membahas strategi pengembangan infrastruktur digital yang lebih mandiri, aman, dan sesuai dengan regulasi nasional. 

Dalam kesempatan yang sama, CEO Sivali Cloud Technology, Wong Sui Jan mengatakan, open source menjadi pendekatan strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap platform teknologi tertutup.

“Dengan open source, institusi memiliki kontrol lebih besar terhadap infrastruktur dan data. Ini penting untuk memastikan keamanan, efisiensi, dan kemandirian sistem digital,” ujar Sui Jan yang juga merupakan Ketua Komtap Open Source DPP APTIKNAS.

Ryo Ardian, dari Cloud in Asia, menyebut, penguatan ekosistem cloud nasional membutuhkan kolaborasi lintas sektor. “Kolaborasi antara industri, kampus, dan komunitas menjadi kunci dalam membangun ekosistem cloud nasional yang berdaulat dan berkelanjutan,” kata Ryo.

CROSS Indonesia 2026 diselenggarakan oleh Onno Center bersama Cloud in Asia dan UNJAYA, serta didukung oleh Sivali Cloud Technology. Dengan mengusung tema “Mendorong Kedaulatan Digital Indonesia melalui Open Source”, forum ini mengintegrasikan dua agenda utama, yakni Open Source Summit dan Ubuntu Release Party.

Kegiatan ini diikuti oleh para talenta muda digital, dari mahasiswa hingga profesional yang sudah berkarier di industri juga antusias berbagi pengetahuan, para praktisi TI, hingga pegiat open source, termasuk Komunitas Ubuntu Indonesia

Wakil Dekan 2 Fakultas Teknik dan Teknologi Informasi Unjaya Chanief Budi Setiawan menyebut, kampus memiliki tanggung jawab tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga melahirkan inovasi, membangun kolaborasi, dan menjadi penggerak utama dalam transformasi digital berbasis kemandirian.

"Kami percaya bahwa sinergi antara akademisi, pemerintah, industri, dan komunitas open source adalah kunci dalam menciptakan solusi digital yang tepat guna bagi Indonesia," terang dia.

CROSS 2026 menjadi ruang strategis untuk merumuskan standar open source yang sesuai dengan kebutuhan nasional, menentukan strategi pemilihan teknologi yang tepat guna, dan mengkaji praktik terbaik melalui studi kasus di sektor publik dan industri.

CROSS Indonesia 2026 dihadiri pembicara dari berbagai sektor, termasuk dari Canonical Ltd., instansi pemerintah, industri keuangan, akademisi, serta komunitas open source nasional. CROSS 2026 juga merupakan lanjutan dari ajang Sahabat Ubuntu Indonesia 

Sekretaris Program Studi Teknologi Informasi (Cybersecurity), FTTI Unjaya, Dedy Hariyadi mengatakan, dari sudut mahasiswa, open source merupakan media belajar karena deskripsi jelas, dokumentasi dan pilihannya lebih banyak. "Apalagi open source juga terjangkau. Murah tetapi tidak murahan. Di open source kita bisa berdaya bareng-bareng, antar praktisi berkolaborasi. Mulai titik ini, mulai hari ini mari berdaya bersama," ujar Dedy.

Melalui forum Cloud Regional Open Source Summit (CROSS) Indonesia 2026, para pemangku kepentingan diharapkan dapat memperkuat sinergi dalam membangun infrastruktur digital yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga mampu menjawab tantangan kedaulatan data di era transformasi digital. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya