Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH studi terbaru dalam bidang astrofisika mengungkap prediksi mencengangkan tentang tabrakan dua lubang hitam supermasif yang diperkirakan akan terjadi dalam kurun waktu sekitar 100 tahun ke depan. Peristiwa ini diyakini akan menjadi salah satu fenomena paling energik di alam semesta, menghasilkan gelombang gravitasi dengan kekuatan luar biasa.
Penelitian ini berfokus pada sistem biner di pusat galaksi aktif OJ 287. Objek ini telah lama diamati karena menunjukkan pola kilatan cahaya periodik yang tidak biasa. Para ilmuwan meyakini bahwa fenomena tersebut disebabkan oleh interaksi dua lubang hitam raksasa yang saling mengorbit.
Berdasarkan analisis yang melibatkan European Space Agency dan berbagai observatorium internasional, lubang hitam utama dalam sistem ini memiliki massa sekitar 18 miliar kali massa Matahari, sementara pasangannya memiliki massa sekitar 150 juta kali massa Matahari. Perbedaan massa yang signifikan ini menciptakan dinamika orbit yang kompleks dan menghasilkan emisi energi yang dapat diamati dari Bumi.
Seiring waktu, orbit kedua lubang hitam tersebut terus menyusut akibat pelepasan energi dalam bentuk gelombang gravitasi. Fenomena ini sesuai dengan prediksi relativitas umum yang dikembangkan oleh Albert Einstein, di mana objek bermassa besar yang bergerak cepat dapat mengganggu struktur ruang-waktu.
Simulasi komputer terbaru menunjukkan bahwa kedua objek ini akan mencapai fase merger atau penyatuan dalam waktu sekitar satu abad. Ketika tabrakan terjadi, energi yang dilepaskan diperkirakan melampaui total energi yang dipancarkan oleh seluruh bintang dalam galaksi selama periode tertentu, menjadikannya peristiwa kosmik yang sangat langka dan penting untuk dipelajari.
Meskipun jaraknya sangat jauh dari Bumi dan tidak menimbulkan dampak langsung, peristiwa ini memiliki nilai ilmiah yang sangat besar. Deteksi gelombang gravitasi dari tabrakan ini akan memberikan wawasan baru tentang evolusi galaksi, sifat lubang hitam, serta perilaku ekstrem ruang-waktu.
Observatorium seperti Laser Interferometer Gravitational-Wave Observatory dan misi masa depan Laser Interferometer Space Antenna diharapkan mampu merekam sinyal dari peristiwa tersebut dengan tingkat presisi tinggi. Teknologi ini memungkinkan para ilmuwan untuk mengamati alam semesta melalui “gelombang” yang tidak kasat mata.
Penelitian ini menegaskan bahwa alam semesta masih menyimpan banyak fenomena ekstrem yang belum sepenuhnya dipahami. Dengan kemajuan teknologi observasi, manusia kini berada di ambang untuk menyaksikan salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah kosmik. (H-2)
NASA merilis citra terbaru Hubble yang mengungkap Nebula Telur, fase langka sebelum nebula planet terbentuk. Fenomena kosmik ini terjadi 1.000 tahun cahaya dari Bumi.
ESA menggelar simulasi badai matahari besar mirip Carrington Event 1859 untuk menguji ketahanan satelit dan dampaknya terhadap sistem Bumi.
Para ilmuwan menemukan bahwa angin di Mars berembus jauh lebih kencang dari dugaan sebelumnya. Temuan ini berasal dari analisis 1.039 pusaran debu (dust devils), tornado mini khas Planet Merah
Penelitian terbaru menunjukkan Theia, benda raksasa yang menabrak Bumi hingga membentuk Bulan, kemungkinan berasal dari wilayah dalam Tata Surya dan pernah menjadi “tetangga” Bumi.
Ledakan ini berasal dari WSB 52, di mana semburan jet berkecepatan tinggi menghantam gas di sekitarnya, membentuk bola besar berisi materi panas bertekanan tinggi.
ALMA berhasil memetakan struktur internal galaksi awal dan menunjukkan bukti pembentukan cakram galaksi serta sisa tabrakan kosmik di era awal alam semesta.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved