Langit April 2026: Indonesia Jadi Lokasi Utama Fenomena Langka Asteroid Okultasi Bintang

Media Indonesia
24/4/2026 02:24
Langit April 2026: Indonesia Jadi Lokasi Utama Fenomena Langka Asteroid Okultasi Bintang
Ilustrasi(Dok Accu Weather )

FENOMENA langit langka akan melintasi Indonesia pada 26 April 2026. Asteroid 1201 Strenua diprediksi akan Okultasi cahaya bintang HIP 35933 dalam peristiwa yang dikenal sebagai okultasi.

Peristiwa ini dijadwalkan terjadi sekitar pukul 19.41 WIB dan hanya berlangsung beberapa detik, dengan durasi maksimal sekitar 4–8 detik tergantung lokasi pengamat.

Apa Itu Okultasi?

Okultasi adalah fenomena ketika sebuah benda langit melintas tepat di depan benda lain yang lebih jauh, sehingga cahaya objek di belakangnya tertutup sementara. Berbeda dengan gerhana, peristiwa ini jauh lebih singkat dan sulit diamati.

Dalam kasus ini, asteroid Strenua akan melintas di depan bintang HIP 35933, membuat bintang tersebut tampak “menghilang” sesaat dari Bumi.

Indonesia Jadi Jalur Utama

Indonesia menjadi lokasi penting karena berada tepat di jalur bayangan asteroid. Jalur ini berbentuk pita sempit selebar sekitar 12 kilometer yang bergerak cepat di permukaan Bumi.

Lintasan fenomena diperkirakan melintasi Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, hingga Nusa Tenggara Timur sebelum berlanjut ke Australia. Di wilayah inilah peluang melihat bintang “padam” sesaat paling besar.

Penting untuk Ilmu Pengetahuan

Meski terlihat sederhana, fenomena ini sangat berharga bagi ilmuwan. Dengan mengamati kapan bintang mulai dan berhenti tertutup, peneliti bisa menghitung ukuran, bentuk, hingga orbit asteroid dengan lebih akurat.

Data dari berbagai titik pengamatan akan digabungkan untuk membentuk “profil bayangan” asteroid yang sulit diamati langsung dengan teleskop.

Kampanye Pengamatan Nasional

Observatorium Bosscha mengajak masyarakat ikut berpartisipasi dalam pengamatan ini. Kampanye ini melibatkan akademisi, mahasiswa, hingga astronom amatir di seluruh Indonesia.

Sebelumnya, Bosscha juga menggelar kolokium ilmiah untuk membahas strategi observasi dan membuka peluang kolaborasi internasional.

Selain itu, workshop gratis juga diselenggarakan untuk mengajarkan teknik dasar pengamatan, mulai dari menentukan lokasi, penggunaan teleskop atau kamera, hingga cara mengirimkan data.

Kontribusi Indonesia untuk Dunia

Data hasil pengamatan akan dikirim ke organisasi internasional seperti International Occultation Timing Association dan European Research Council.

Temuan dari Indonesia akan digabungkan dengan data dari negara lain seperti Jepang, India, dan Australia, menjadikan fenomena ini sebagai kolaborasi global dalam riset asteroid.

Fenomena singkat ini menjadi kesempatan langka bagi masyarakat Indonesia untuk terlibat langsung dalam penelitian astronomi kelas dunia, cukup dengan mengamati langit selama beberapa detik. (Muhammad Ghifari A/E-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya