DNA Neanderthal Masih Hidup di Otak Kita, Ilmuwan Temukan Kaitannya dengan Skizofrenia

Intan Safitri
20/4/2026 22:25
DNA Neanderthal Masih Hidup di Otak Kita, Ilmuwan Temukan Kaitannya dengan Skizofrenia
Rekonstruksi ilmiah wajah Neanderthal berdasarkan analisis tengkorak(Doc Live Science)

JEJAK manusia purba ternyata belum benar-benar hilang dari tubuh kita. Penelitian genetika modern mengungkap bahwa manusia saat ini terutama di luar Afrika masih membawa sekitar 1-2 persen DNA Neanderthal. Temuan ini bukan sekadar catatan evolusi, tapi punya dampak nyata terhadap cara tubuh dan otak manusia bekerja hari ini.

DNA Neanderthal tidak hanya memengaruhi sistem imun dan metabolisme, tapi juga berperan dalam perkembangan otak. Artinya, sebagian kecil cara kita berpikir dan merespons dunia bisa jadi merupakan warisan langsung dari spesies yang hidup puluhan ribu tahun lalu.

Pengaruh ke Struktur dan Fungsi Otak

Penelitian berbasis pencitraan otak menunjukkan bahwa varian gen dari Neanderthal dapat memengaruhi bentuk dan konektivitas otak manusia modern. Area yang terdampak terutama berkaitan dengan kemampuan visual dan pemrosesan spasial.

Di satu sisi, pengaruh ini bisa memberi keuntungan, seperti kemampuan visual yang lebih tajam. Namun di sisi lain, ada indikasi bahwa fungsi sosial dan kognitif tertentu bisa ikut terpengaruh. Di sinilah para peneliti mulai melihat hubungan yang lebih kompleks dengan gangguan mental.

Kaitan dengan Skizofrenia, Tapi Tidak Sederhana

Sejumlah riset dari Nature Publishing Group menemukan bahwa beberapa varian gen yang diwarisi dari Neanderthal juga muncul dalam studi terkait skizofrenia. Kondisi ini dikenal sebagai gangguan mental serius yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku.

Namun, para ilmuwan menegaskan bahwa hubungan ini tidak bersifat langsung. DNA Neanderthal bukan penyebab utama skizofrenia. Sebaliknya, ia hanya menjadi salah satu faktor kecil dalam sistem biologis yang sangat kompleks.

Menariknya, ada juga temuan yang menunjukkan efek sebaliknya. Beberapa varian gen Neanderthal justru dikaitkan dengan penurunan risiko atau tingkat keparahan gejala skizofrenia. Artinya, warisan genetik ini bisa berdampak positif maupun negatif, tergantung konteksnya.

Evolusi, Risiko, dan Realitas Modern

Penelitian ini membuka perspektif baru tentang bagaimana evolusi masih memengaruhi kehidupan manusia modern, termasuk kesehatan mental. Apa yang dulu mungkin menjadi keunggulan adaptif bagi Neanderthal, belum tentu relevan di dunia saat ini.

Kesimpulannya, DNA Neanderthal memang masih hidup dalam diri kita, termasuk di otak. Tapi kaitannya dengan skizofrenia bukan hubungan sebab-akibat yang sederhana. Ini adalah bagian dari puzzle besar yang melibatkan genetika, lingkungan, dan perkembangan otak manusia.

Sumber: Nature



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya