Wahana Antarbintang 3I/ATLAS Semprotkan Berton-ton Air ke Luar Angkasa setiap Detik

Muhammad Ghifari A
20/4/2026 22:10
Wahana Antarbintang 3I/ATLAS Semprotkan Berton-ton Air ke Luar Angkasa setiap Detik
Ilustrasi(Doc ESA/Juice/MAJIS)

Komet penyerbu antarbintang 3I/ATLAS baru-baru ini menarik perhatian dunia astronomi setelah terdeteksi menyemburkan air dalam jumlah yang fantastis. Setiap harinya, komet ini mengeluarkan uap air yang cukup untuk mengisi sekitar 70 kolam renang Olimpiade. 

Penemuan ini menjadi momen krusial bagi para ilmuwan karena memberikan kesempatan langka untuk mempelajari material purba yang berasal dari sistem bintang lain, yang kemungkinan besar terbentuk miliaran tahun sebelum matahari kita lahir.

Fenomena luar biasa ini berhasil diabadikan oleh misi Jupiter Icy Moons Explorer (JUICE) milik Badan Antariksa Eropa (ESA). Meskipun saat ini sedang dalam perjalanan panjang menuju Jupiter, wahana JUICE menyempatkan diri untuk mengamati 3I/ATLAS pada November 2025 menggunakan instrumen canggih MAJIS dan JANUS. 

Pengamatan tersebut menunjukkan bahwa saat melewati titik terdekat dengan matahari atau perihelion, radiasi surya memanaskan inti es komet hingga memicu proses sublimasi, di mana es padat langsung berubah menjadi gas secara eksplosif.

Selama proses tersebut, instrumen MAJIS berhasil mengidentifikasi emisi inframerah dari uap air dan molekul karbon dioksida yang terkubur di bawah permukaan komet. 

Giuseppe Piccioni dari Institut Nasional untuk Astrofisika (INAF) menjelaskan bahwa aliran material dari inti komet mencapai sekitar dua ton per detik. Aktivitas ini menciptakan struktur visual yang memukau, termasuk koma yang memanjang serta berbagai pancaran sinar dan filamen yang menunjukkan betapa intensnya gejolak kimiawi di dalam komet antarbintang tersebut.

Keberhasilan pengamatan ini sebenarnya merupakan sebuah kejutan, mengingat rencana untuk memantau 3I/ATLAS baru disusun secara mendadak setelah komet tersebut ditemukan pada pertengahan 2025. 

Meskipun tim peneliti harus menunggu hingga Februari 2026 untuk menerima data lengkapnya di Bumi, hasilnya dianggap sangat sepadan. Performa gemilang dari instrumen JANUS dalam menangkap gambar-gambar detail ini pun dipandang sebagai uji coba yang sempurna sebelum nantinya ia menjalankan tugas utamanya dalam meneliti bulan-bulan es di sistem planet Jupiter.

Sumber: Space

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya