Pesawat NASA Saksikan Detik-Detik Kehancuran Komet MAPS di Dekat Matahari

Media Indonesia
19/4/2026 01:24
Pesawat NASA Saksikan Detik-Detik Kehancuran Komet MAPS di Dekat Matahari
(Kiri) Koronagraf SOHO menunjukkan komet C/2026 A1 (MAPS) mendekati Matahari dari kiri bawah pada 4 April 2026. (Kanan) Hanya awan debu komet yang muncul di sisi lain cakram koronagraf. Lingkaran putih di tengah cakram menunjukkan lokasi dan ukuran Matahar(Dok NASA)

PADA 4 April 2026, komet C/2026 A1 (MAPS) melakukan perjalanan maut mendekati Matahari dengan jarak sekitar dua kali jarak rata-rata Bulan ke Bumi. 

Para pengamat komet di seluruh dunia sempat menaruh harapan besar pada ketahanan benda langit ini terhadap suhu Matahari yang menyengat. Namun, data terbaru dari wahana antariksa SOHO (Solar and Heliospheric Observatory), misi kolaborasi NASA dan Badan Antariksa Eropa (ESA), mengonfirmasi bahwa komet tersebut telah hancur total. 

Melalui instrumen koronagraf pada SOHO yang berfungsi menutupi piringan Matahari untuk mengungkap objek-objek redup di sekitarnya, komet terlihat mendekat dalam kondisi yang tampak masih utuh sebelum menghilang di balik cakram koronagraf tersebut. 

Namun, beberapa jam kemudian, SOHO hanya menangkap kemunculan awan debu dari sisi lain piringan tersebut, yang menandakan bahwa komet telah hancur total. 

"Komet itu jelas hancur. Kemungkinan beberapa jam sebelum pendekatan terdekatnya ke Matahari," ujar Karl Battams dari Laboratorium Penelitian Angkatan Laut AS, yang merupakan penyelidik utama untuk instrumen koronagraf SOHO yang disebut LASCO.

Menariknya, meskipun dari sudut pandang SOHO komet tampak seolah terjun langsung menabrak Matahari, perspektif berbeda diberikan oleh misi STEREO (Solar Terrestrial Relations Observatory). 

Mengambil sudut pandang 54,5 derajat dari garis Matahari-Bumi, STEREO menunjukkan bahwa komet MAPS sebenarnya sedang berayun mengelilingi Matahari saat ia mulai hancur lebur akibat suhu ekstrem, bukan karena benturan fisik dengan permukaan surya. 

Selain SOHO dan STEREO, misi PUNCH (Polarimeter to Unify the Corona and Heliosphere) juga turut melacak pergerakan komet ini sebelum peristiwa fatal tersebut terjadi. Ketiga wahana ini merupakan bagian dari armada heliofisika NASA yang ditempatkan secara strategis untuk mempelajari pengaruh Matahari terhadap tata surya dari berbagai perspektif. 

Komet MAPS sendiri pertama kali ditemukan pada 13 Januari 2026 oleh sebuah teleskop di Chile yang tergabung dalam program MAPS bentukan astronom amatir Alain Maury, Georges Attard, Daniel Parrott, dan Florian Signoret. 

Komet ini merupakan bagian dari keluarga komet Kreutz sungrazing, yaitu kelompok komet dengan orbit yang sangat dekat dengan Matahari dan diyakini sebagai fragmen dari sebuah komet raksasa yang pecah berabad-abad lalu. (Nadhira Izzati A/E-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya