Kolaborasi AI di Sektor Kesehatan Percepat Penemuan Obat

Naviandri
16/4/2026 21:32
Kolaborasi AI di Sektor Kesehatan Percepat Penemuan Obat
Pekerja memperagakan alat Transcranial Pulse Stimulation (TPS) di RSPAD Gatot Subroto.(Antara)

PERUSAHAAN farmasi global Novo Nordisk resmi menjalin kemitraan strategis dengan OpenAI untuk mendorong transformasi penemuan dan distribusi obat berbasis kecerdasan buatan (AI). Kolaborasi ini dinilai sebagai langkah signifikan dalam mempercepat inovasi di sektor kesehatan, khususnya dalam penanganan penyakit kronis seperti diabetes dan obesitas.

Melalui kemitraan ini, Novo Nordisk akan memanfaatkan teknologi AI untuk menganalisis data dalam skala besar dan kompleks, yang selama ini menjadi tantangan dalam riset farmasi. Dengan kemampuan tersebut, proses identifikasi kandidat obat baru hingga tahap pengujian diharapkan dapat berlangsung lebih cepat dan efisien.

Presiden dan CEO Novo Nordisk, Mike Doustdar, menegaskan kebutuhan mendesak akan inovasi terapi baru. “Jutaan orang yang hidup dengan obesitas dan diabetes membutuhkan lebih banyak pilihan pengobatan. Mengintegrasikan AI memungkinkan kami menganalisis data dalam skala yang sebelumnya tidak mungkin, serta menguji hipotesis jauh lebih cepat,” ujarnya, Kamis (16/4).

Ia menambahkan, percepatan tersebut akan memangkas waktu dari tahap penelitian hingga obat dapat diakses oleh pasien. Selain itu, kolaborasi ini juga mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui penguatan literasi AI di seluruh organisasi global perusahaan.

Di sisi lain, CEO OpenAI, Sam Altman, melihat sektor ilmu hayati sebagai salah satu bidang yang paling diuntungkan dari perkembangan AI. “Teknologi ini dapat membantu manusia hidup lebih baik dan lebih lama. Kolaborasi ini akan mempercepat penemuan ilmiah dan mendefinisikan ulang masa depan penanganan pasien,” katanya.

Tidak hanya berfokus pada riset, kerja sama ini juga mencakup optimalisasi proses manufaktur, rantai pasok, hingga distribusi obat. Program percontohan akan diterapkan lintas divisi, mulai dari penelitian dan pengembangan hingga operasional komersial, dengan target integrasi penuh pada akhir 2026.

Meski demikian, kedua pihak menekankan pentingnya tata kelola yang ketat dalam penggunaan AI. Perlindungan data, pengawasan manusia, serta kepatuhan terhadap regulasi menjadi bagian utama dalam implementasi teknologi ini agar tetap etis dan aman.

Langkah ini memperkuat posisi Novo Nordisk sebagai pemain utama dalam transformasi digital sektor kesehatan. Dengan pengalaman panjang sejak berdiri pada 1923 dan jangkauan global di lebih dari 170 negara, perusahaan ini kini berupaya memanfaatkan AI sebagai akselerator inovasi medis.

Kolaborasi ini juga mencerminkan tren global di mana perusahaan farmasi mulai mengadopsi teknologi canggih untuk menjawab tantangan kompleks dalam pengembangan obat. Jika berhasil, model kerja sama ini berpotensi menjadi standar baru dalam industri, sekaligus membuka peluang percepatan akses terapi bagi jutaan pasien di seluruh dunia. (E-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya