Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENELITIAN terbaru mengungkap kemampuan visual unik pada spesies capung Asiagomphus melaenops. Tidak seperti manusia yang hanya mampu melihat spektrum cahaya tampak, capung ini ternyata bisa mendeteksi cahaya hingga mendekati inframerah.
Secara teknis, kemampuan ini berasal dari protein visual bernama opsin yang ada di mata mereka. Opsin tersebut memungkinkan capung menangkap panjang gelombang hingga sekitar 720 nanometer, tepat di batas antara cahaya merah dan inframerah dekat. Ini bukan penglihatan inframerah seperti kamera thermal, tetapi cukup untuk memberi mereka lapisan informasi tambahan yang tidak terlihat oleh manusia.
Yang membuat temuan ini menarik bukan sekadar kemampuan melihat spektrum lebih luas, tetapi fungsinya. Peneliti menemukan bahwa tubuh jantan dan betina memantulkan cahaya secara berbeda pada panjang gelombang merah hingga inframerah.
Perbedaan ini hampir tidak terlihat di spektrum biasa. Namun, bagi capung ini, sinyal tersebut jelas yang berarti mereka bisa membedakan pasangan potensial saat terbang cepat hanya dari kode warna tersembunyi yang tidak bisa ditangkap oleh sebagian besar makhluk lain.
Capung dikenal sebagai pemburu udara yang presisi. Mereka harus bergerak cepat, mengambil keputusan dalam hitungan detik, termasuk saat mencari pasangan. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan mengenali perbedaan visual yang sangat halus menjadi keunggulan besar.
Dengan akses ke spektrum yang lebih luas, capung tidak perlu bergantung pada warna mencolok atau sinyal fisik lain yang lebih lambat diproses. Sistem visual mereka bekerja seperti filter tambahan yang langsung menyoroti target yang relevan.
Temuan ini tidak berhenti di observasi perilaku. Studi molekuler menunjukkan bahwa opsin pada capung ini termasuk yang paling sensitif terhadap panjang gelombang panjang dibandingkan serangga lain. Bahkan, dalam eksperimen laboratorium, protein ini menunjukkan potensi untuk merespons cahaya mendekati inframerah dengan lebih kuat.
Peneliti menyimpulkan bahwa kemampuan ini kemungkinan besar berkembang sebagai adaptasi evolusioner, khususnya untuk meningkatkan akurasi dalam mengenali pasangan.
Penemuan ini menambah bukti bahwa dunia visual serangga jauh lebih kompleks dari yang selama ini dipahami. Bagi manusia, warna adalah sesuatu yang terlihat jelas di permukaan. Namun bagi capung seperti Asiagomphus melaenops, ada lapisan lain yang bekerja di baliknya, lapisan yang menentukan interaksi penting seperti reproduksi.
Dengan kata lain, apa yang terlihat biasa bagi manusia bisa jadi penuh informasi bagi makhluk lain. Dan dalam kasus capung ini, warna tersembunyi itu menjadi kunci untuk menemukan pasangan di tengah pergerakan yang cepat dan kompetitif.
Sumber: Sci.news, Science Direct
Menurut Guinness World Records, pada tahun 1917 pernah dicatat kecepatan 98,6 km/jam pada capung Southern Giant Darner.
Setelah berjuta-juta tahun lamanya, spesies capung bernama Cordualadensa Acorni ditemukan di Dinosaur Provincial Park, Alberta, Kanada.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved