Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH studi terbaru yang mengandalkan pengamatan satelit peniru gerhana matahari mengungkap fakta mengejutkan tentang atmosfer matahari. Angin matahari di lapisan korona ternyata bergerak hingga empat kali lebih cepat daripada yang diperkirakan para ilmuwan sebelumnya.
Penelitian yang diterbitkan dalam The Astrophysical Journal Letters ini berfokus pada "angin matahari lambat" yang terbentuk sangat dekat dengan permukaan matahari. Sebelumnya, jenis angin ini diperkirakan hanya bergerak dengan kecepatan sekitar 100 kilometer per detik. Namun, data terbaru menunjukkan angka yang jauh lebih drastis.
"Di korona bagian dalam, wilayah yang sangat sulit untuk diamati, kami melihat embusan angin matahari lambat bergerak tiga hingga empat kali lebih cepat dari yang diperkirakan," ujar Andrei Zhukov, fisikawan surya dari Royal Observatory of Belgium sekaligus penulis utama studi tersebut.
Alih-alih melaju pada kecepatan 100 km per detik, embusan angin tepat di atas permukaan matahari tersebut tercatat mencapai kecepatan hingga 480 kilometer per detik.
Temuan luar biasa ini berhasil didapatkan berkat misi Proba-3 milik Badan Antariksa Eropa (ESA). Misi ini terdiri dari dua satelit yang terbang dalam formasi presisi dengan jarak 150 meter. Salah satu satelit berfungsi sebagai penghalang cahaya matahari (occulter) bagi satelit lainnya, menciptakan efek gerhana matahari buatan secara terus-menerus.
Selama ini, mengamati korona matahari sangatlah sulit karena cahayanya sejuta kali lebih redup dibandingkan cakram matahari. Gerhana matahari alami memang bisa membantu, namun fenomena tersebut sangat jarang terjadi dan hanya berlangsung singkat.
Sejak diluncurkan pada Desember 2024, Proba-3 telah berhasil menciptakan 57 gerhana buatan dan menangkap 250 jam video beresolusi tinggi. "Kami dapat melacak bagaimana angin matahari berakselerasi di dekat Matahari, dan kami telah melihat kecepatan serta akselerasi yang mengejutkan kami," kata Joe Zander, ilmuwan proyek Proba-3 di ESA.
Angin matahari adalah aliran partikel bermuatan yang terus-menerus terpancar dari matahari ke seluruh sistem surya. Aliran ini merupakan pemicu badai geomagnetik yang dapat berdampak pada infrastruktur komunikasi dan navigasi di Bumi.
Berbeda dengan angin matahari cepat yang mengalir mulus, angin matahari lambat keluar dalam bentuk gumpalan yang tidak beraturan. Para ilmuwan menduga proses ini terjadi akibat garis medan magnet matahari yang putus dan tersambung kembali, meski proses pastinya masih menjadi misteri.
Data terbaru ini mengungkapkan bahwa angin matahari lambat muncul dari permukaan dengan cara yang tidak seragam, menghasilkan gangguan medan magnet skala kecil. Joe Zander menegaskan bahwa temuan ini barulah permulaan. "Dataset pertama ini hanyalah awal dari perjalanan panjang untuk memahami sepenuhnya apa yang sebenarnya terjadi di sana," pungkasnya. (Space/Z-2)
Menggunakan teknologi terkini, European Space Agency (ESA) berhasil menciptakan gerhana matahari total, tanpa harus menunggu posisi Bulan yang tepat.
Badan Antariksa Eropa (ESA) merancang misi luar angkasa bernama Proba-3 untuk menciptakan gerhana matahari buatan yang dapat berlangsung hingga berjam-jam.
DKIST berhasil menangkap lingkaran magnetik terkecil di korona Matahari, membuka wawasan baru tentang terbentuknya flare dan rekoneksi magnetik.
Dua satelit Eropa menciptakan "gerhana matahari total buatan" di luar angkasa, demikian diumumkan Badan Antariksa Eropa (ESA) pada 16 Juni
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved