Ahli ITB Ungkap Dampak Gerhana Matahari Cincin: Aman atau Berbahaya?

Abi Rama
11/4/2026 20:20
Ahli ITB Ungkap Dampak Gerhana Matahari Cincin: Aman atau Berbahaya?
Ilustrasi(freepik)

Fenomena gerhana matahari cincin yang terjadi pada 17 Februari 2026 lalu menjadi fenomena gerhana matahari pertama di tahun ini. Peristiwa yang menampilkan efek “cincin api” atau ring of fire tersebut sempat menarik perhatian masyarakat dunia, termasuk di Indonesia.

Meski begitu, masih banyak masyarakat yang mempertanyakan apakah fenomena tersebut menimbulkan dampak tertentu, terutama bagi wilayah yang tidak dilalui jalur gerhana. Dosen Astronomi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ferry M. Simatupang, menegaskan bahwa gerhana matahari cincin tidak memberikan dampak langsung maupun tidak langsung bagi Bumi.

“Sejauh ini tidak ada efek yang dirasakan di Bumi, baik untuk daerah yang dilalui jalur gerhana maupun yang tidak dilewati,” ujarnya dikutip dari laman ITB.

Tidak Teramati dari Indonesia

Gerhana matahari cincin pada Februari lalu tidak dapat disaksikan dari Indonesia karena jalurnya hanya melintasi wilayah tertentu, seperti Antartika dan Samudra Hindia bagian selatan.

Secara waktu, gerhana berlangsung mulai pukul 09.56 UTC, mencapai puncak pada 12.12 UTC, dan berakhir pada 14.57 UTC. Namun, karena perbedaan waktu sekitar 7 jam, saat puncak terjadi, wilayah Indonesia bagian barat sudah memasuki malam hari.

Kondisi tersebut membuat fenomena ini praktis tidak bisa diamati dari Indonesia.

Tetap Berbahaya Jika Diamati Tanpa Pelindung

Walaupun tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan, gerhana matahari cincin tetap berisiko bagi kesehatan mata jika diamati tanpa perlindungan yang tepat. Ferry menjelaskan bahwa pada gerhana jenis ini tidak ada fase aman untuk melihat Matahari secara langsung.

“Ketika seluruh piringan bulan berada di depan matahari, bagian pinggirnya tetap terlihat seperti cincin bercahaya. Sehingga dalam kejadian ini, tidak ada waktu yang aman untuk melihat matahari tanpa filter,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa meskipun cahaya yang terlihat hanya berupa cincin, intensitasnya tetap tinggi dan berbahaya.

Selain itu, kondisi lingkungan yang sedikit redup saat gerhana justru membuat pupil mata membesar, sehingga cahaya yang masuk ke mata menjadi lebih banyak dan berpotensi memperparah risiko kerusakan.

Fenomena gerhana selama ini tidak hanya menjadi objek kajian ilmiah, tetapi juga sarana edukasi bagi masyarakat. Pengamatan gerhana kini lebih difokuskan untuk meningkatkan pemahaman publik sekaligus meluruskan berbagai mitos yang berkembang.

“Biasanya kita mengajak masyarakat menikmati fenomena ini agar tidak takut dan tidak termakan mitos, sekaligus mengedukasi cara pengamatan yang aman,” ujar Ferry.

Ia juga mencontohkan kegiatan pengamatan gerhana matahari total pada 20 April 2023 di Biak, yang melibatkan komunitas Langit Selatan dan sektor pariwisata setempat sebagai bagian dari edukasi publik.

Menanti Gerhana Matahari Total 2027

Meski gerhana matahari cincin 2026 telah berlalu dan tidak dapat diamati dari Indonesia, masyarakat masih berpeluang menyaksikan fenomena astronomi lain yang lebih spektakuler pada 7 Agustus 2027 mendatang, yaitu gerhana matahari total.

Fenomena tersebut diperkirakan dapat diamati sebagian dari wilayah Sumatra, khususnya menjelang Matahari terbenam. Dengan durasi fase total mencapai 6 menit 23 detik, gerhana ini menjadi salah satu yang terpanjang di abad ke-21.

Peristiwa ini pun diprediksi akan menjadi momen langka yang dinantikan, terutama bagi para pengamat langit.

Sumber: Institut Teknologi Bandung.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya