Waspada, 2,3 Juta Pengguna Jadi Korban Malware Pencuri Data WhatsApp

N Apuan Iskandar
07/4/2026 10:00
Waspada, 2,3 Juta Pengguna Jadi Korban Malware Pencuri Data WhatsApp
Ilustrasi(freepik)

ANCAMAN keamanan siber kembali meningkat setelah ditemukan malware Android yang mampu mencuri data pengguna WhatsApp. Berdasarkan laporan terbaru, lebih dari 2,3 juta pengguna telah terdampak serangan ini, menjadikannya salah satu kasus kebocoran data terbesar di perangkat mobile dalam beberapa waktu terakhir.

Laporan dari Dr.Web mengungkap malware ini menyusup melalui aplikasi palsu yang tampak seperti versi modifikasi dari WhatsApp. Aplikasi tersebut menawarkan fitur tambahan seperti kustomisasi tampilan dan fungsi premium, namun diam-diam mengandung kode berbahaya.

Setelah terpasang, malware bekerja dengan mengakses berbagai izin di perangkat, termasuk membaca pesan, mengakses kontak, serta mengambil data dari penyimpanan internal. Bahkan, malware ini mampu mencuri kode verifikasi yang digunakan untuk login, sehingga memungkinkan pelaku mengambil alih akun korban.

Menurut Dr.Web. Malware ini dirancang untuk mengelabui pengguna agar memberikan akses penuh ke perangkat mereka. Setelah itu, data sensitif dapat diambil tanpa disadari.

Lebih lanjut, malware ini juga diketahui dapat menyebar secara otomatis melalui pesan yang dikirim ke kontak korban, sehingga memperluas jangkauan infeksi dengan cepat. Teknik ini membuat penyebaran menjadi eksponensial dan sulit dikendalikan.

Aplikasi Tidak Resmi

Menurut Kaspersky, kasus seperti ini menunjukkan aplikasi tidak resmi atau hasil modifikasi menjadi salah satu celah utama dalam keamanan digital pengguna.

Hal ini terjadi karena pengguna sering tergoda oleh fitur tambahan yang tidak tersedia di aplikasi resmi, padahal risiko keamanannya sangat tinggi.

Untuk menghindari ancaman ini, pengguna disarankan hanya mengunduh aplikasi dari toko resmi seperti Google Play Store serta memastikan pengembang aplikasi dapat dipercaya. Selain itu, memperbarui sistem operasi dan aplikasi secara berkala juga penting untuk menutup celah keamanan.

Pengguna juga dianjurkan untuk lebih selektif dalam memberikan izin aplikasi, terutama yang berkaitan dengan akses pesan, kontak, dan penyimpanan.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa keamanan digital tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kesadaran pengguna. Dengan meningkatnya aktivitas digital, risiko serangan siber pun semakin kompleks dan memerlukan kewaspadaan lebih tinggi. (Dr.Web/Kaspersky/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya