Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
NASA mencetak sejarah baru dengan keberhasilan misi Parker Solar Probe, yang berhasil mendekati Matahari lebih dekat daripada pesawat antariksa mana pun sebelumnya dan tidak terbakar oleh panasnya matahari.
Kamis (26/12), tepat pukul 05:00 GMT, sinyal dari Parker Solar Probe akhirnya diterima NASA setelah beberapa hari tanpa komunikasi. Sinyal tersebut menandakan pesawat ruang angkasa itu berhasil bertahan dari tantangan ekstrem saat mendekati Matahari, menjadikannya salah satu pencapaian paling berani dalam eksplorasi luar angkasa.
Pesawat antariksa itu berada pada jarak hanya 3,8 juta mil (sekitar 6,1 juta km) dari permukaan Matahari, atau sekitar 4 cm jika diibaratkan Matahari dan Bumi berjarak satu meter. Ini adalah rekor terdekat yang pernah dicapai manusia terhadap bintang pusat tata surya kita.
Selama perjalanan epiknya, Parker Solar Probe meluncur dengan kecepatan luar biasa hingga 430.000 mph (692.000 km/jam). Kecepatan ini setara dengan menempuh perjalanan dari London ke New York dalam waktu kurang dari 30 detik.
Dengan suhu lingkungan mencapai 1.400°C, wahana tersebut dilengkapi dengan perisai panas komposit karbon setebal 11,5 cm untuk melindungi peralatannya dari kerusakan akibat radiasi tinggi dan panas brutal.
Namun, bukan hanya teknologi canggih yang membuat misi ini berhasil. Strategi "masuk dan keluar" yang cepat menjadi kunci bagi Parker Solar Probe untuk bertahan hidup di lingkungan ekstrem Matahari.
Misi ini bertujuan menjawab berbagai pertanyaan mendalam tentang Matahari yang masih menjadi misteri, termasuk alasan mengapa atmosfer luar Matahari atau korona jauh lebih panas daripada permukaan bintang itu sendiri.
"Permukaan Matahari bersuhu sekitar 6.000°C, tetapi korona, yang lebih jauh dari permukaan, bisa mencapai jutaan derajat Celsius," jelas Dr. Jenifer Millard, astronom dari Fifth Star Labs. "Ini adalah teka-teki yang belum terpecahkan, dan data dari Parker Solar Probe diharapkan dapat memberikan jawabannya."
Selain itu, misi ini juga berfokus pada studi angin matahari partikel bermuatan yang terus-menerus keluar dari Matahari. Ketika partikel ini berinteraksi dengan medan magnet Bumi, mereka menciptakan fenomena aurora yang indah. Namun, cuaca luar angkasa ini juga memiliki potensi merusak jaringan listrik, sistem komunikasi, dan satelit.
Selama periode pendekatan terdekat ini, NASA menghadapi masa-masa penuh ketegangan karena Parker Solar Probe tidak dapat berkomunikasi akibat medan radiasi intens di sekitar Matahari. Namun, tim di NASA tetap optimis terhadap keberhasilan misi ini.
"Saya sempat khawatir, tetapi kami yakin dengan desain Parker Solar Probe yang dirancang untuk menghadapi kondisi ekstrem," ujar Dr. Nicola Fox, kepala sains NASA.
Saat sinyal kembali diterima, tim NASA menyambut kabar tersebut dengan sukacita. Pesan singkat berbentuk simbol hati hijau dari tim misi menandakan bahwa wahana kecil ini tetap berfungsi dengan baik meskipun menghadapi tantangan luar biasa.
Diluncurkan pada 2018, Parker Solar Probe telah 21 kali mendekati Matahari, tetapi pencapaian pada malam Natal ini menjadi tonggak sejarah baru.
Dengan data yang terus dikumpulkan, para ilmuwan berharap dapat meningkatkan pemahaman tentang mekanisme Matahari, melindungi Bumi dari dampak cuaca luar angkasa, dan membuka jalan bagi eksplorasi bintang lain di masa depan. (Space/BBC/Z-3)
Kedua letusan tersebut berasal dari wilayah bintik matahari aktif AR4419 yang berada di tepi barat Matahari. Suar pertama mencapai puncaknya pada 23 April pukul 21.07 EDT (24 April 01.07 GMT)
Menurut NASA, komet merupakan benda langit yang tersusun dari es, debu, dan batuan yang dapat menghasilkan ekor terang saat mendekati Matahari akibat pemanasan intens.
Bayangkan jika Matahari tiba-tiba hilang. Dari kegelapan total dalam 8 menit hingga Bumi yang membeku, inilah skenario ilmiah kiamat tanpa sang surya.
Simak skenario sains jika Matahari menghilang. Dari kegelapan dalam 8 menit hingga pembekuan total Bumi dan nasib akhir umat manusia.
Jagat media sosial kembali dihebohkan oleh narasi viral mengenai ide "membungkus Matahari".
Menurut laporan NASA, cahaya matahari membutuhkan waktu sekitar delapan menit untuk mencapai bumi.
Ilmuwan mengusulkan misi luar angkasa untuk mengejar komet antarbintang 3I/ATLAS dengan memanfaatkan manuver Oberth dekat Matahari.
Setelah puluhan tahun menjadi misteri, NASA akhirnya berhasil membuktikan penyebab letusan matahari melalui wahana Parker Solar Probe.
Wahana antariksa Parker Solar Probe milik NASA berhasil menyelesaikan terbang dekat keduanya dengan Matahari pada 22 Maret 2024.
Parker Solar Probe, pesawat luar angkasa NASA, akan terbang dalam jarak terdekatnya dengan matahari pada malam Natal, yakni 3,8 juta mil dari permukaan bintang tersebut.
Pada malam Natal, NASA's Parker Solar Probe akan mencetak rekor baru dengan mendekati permukaan matahari sejauh 3,8 juta mil dengan kecepatan mencapai 430.000 mph.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved