Kembalinya Tren Ponsel Lipat

Rizky Noor Alam
02/3/2019 07:00
Kembalinya Tren Ponsel Lipat
(DOK. ROYOLE)

Ponsel-ponsel lipat ini memiliki harga pasaran yang mencengangkan.

Di 2000-an mungkin Anda familier dengan ponsel-ponsel berdesain lipat atau nama kerennya saat itu ialah clamshell. Sejumlah pabrikan ponsel seperti Nokia, Samsung, hingga Motorola berlomba-lomba menelurkan ponsel berdesain kerang tersebut ke pasaran. Namun, lama-kelamaan model itu mulai ditinggalkan, dan bahkan kini bisa dibilang tidak ada lagi ponsel berbentuk kerang dengan teknologi kekinian di pasaran.

Namun, dalam waktu dekat, inovasi yang dilakukan para pabrikan ponsel belakangan ini tampaknya justru ingin mengembalikan popularitas desain ponsel lipat. Tentu saja dengan desain yang berbeda dari model clamshell, plus kemampuan yang lebih mumpuni. Hal tersebut diawali Samsung yang memperkenalkan ponsel pintar lipatnya, Galaxy Fold ke pasaran pada 20 Februari lalu di sela peluncuran smartphone flagship-nya, Galaxy S10, di Amerika Serikat, Rabu (20/2).

Desain Galaxy Fold tersebut tidak seperti ponsel lipat era sebelumnya yang memisahkan bagian layar dan tombol. Galaxy Fold pada dasarnya adalah smartphone model candybar (batangan) yang dapat berubah menjadi tablet saat dibentangkan. Saat dilipat, layar yang terlihat hanya seluas 4,6 inci. Bentangkan, dan layarnya menjadi nyaris dua kali lipatnya, yaitu 7,3 inci.

Produk lipat Samsung tersebut bertumpu pada engsel lipat yang berada di tengah-tengah layar. Galaxy Fold rencananya akan dijual ke pasaran dengan pilihan warna bernuansa galaksi, seperti cosmic black, martian green, astro blue, dan space silver.

Galaxy Fold dipersenjatai dengan fitur mumpuni seperti 6 kamera, tiga di depan dan tiga di belakang. Ponsel pintar tersebut rencananya akan mulai dilepas ke pasaran pada 26 April 2019 dengan harga cukup wow, yaitu US$1.980, atau Rp27 jutaan.

Kendati Samsung sudah mencuri start memamerkan ponsel pintar lipatnya, Huawei tak gentar menantang. Selang beberapa hari dari Samsung, pabrikan asal 'Negeri Tirai Bambu' tersebut memperkenalkan ponsel pintar lipatnya Mate X di ajang tahunan World Mobile Congress di Spanyol, 25 Februari-1 Maret silam.

Dari penulusuran yang Media Indonesia lakukan, perbedaan mencolok antara Galaxy Gold dan Mate X ialah dari segi layar. Jika Galaxy Fold menyuguhkan transformasi dari ponsel pintar menjadi tablet, Mate X yang terlipat ke luar menyuguhkan 3 pilihan layar berbeda dalam satu gawai. Dalam keadaan tertutup Mate X memiliki ukuran layar 6,6 inci, lalu layar bagian belakangnya memiliki luas 6,38 inci. Jika dibentangkan, ia menjadi tablet dengan layar 8 inci. Ketiga layar Huawei Mate X adalah panel OLED Ful lView Display yang mana saat dalam mode tablet, resolusinya adalah 2480 piksel x 2200 piksel dan ketika ditutup, resolusinya 892 piksel x 2480 piksel.

Dari segi kamera, Mate X menempatkan kameranya di engsel bersamaan dengan flash. Kamera yang ditanam menggunakan teknologi kamera Leica baru dengan tiga sensor -40 MP, 16 MP, dan 8 MP-- dan berfungsi sebagai kamera belakang dan depan.

Ponsel tersebut dilengkapi dengan fitur screen mirroring yang memungkinkan penggunanya untuk melihat seperti apa tampilan foto pada layar 6,38 inci saat mengambil selfie. Bahkan, memungkinkan subjek penggunanya melihat seperti jika mengambil foto mereka melalui kamera belakangnya.

Ponsel ini dilengkapi dengan baterai berkapasitas 4500 mAh. Huawei mengklaim Mate X dilengkapi dengan pengisian daya tercepat, yaitu hingga 85% dalam waktu 30 menit. Rencananya Huawei Mate X akan dilepas ke pasaran pada pertengahan 2019 dengan harga yang lebih mahal dari Galaxy Fold, yaitu US$2.600 atau sekitar Rp36 jutaan.

Langkah Samsung dan Huawei dalam memamerkan teknologi ponsel pintar lipat mereka sebenarnya kalah oleh Royole. Seperti yang Media Indonesia kutip dari wired.co.uk, Rabu (27/2), Royole sebuah perusahaan layar fleksibel asal Tiongkok, sudah meluncurkan ponsel lipatnya FlexPai pada ajang Consumer Electronics Show (CES) 2019, Januari silam.

FlexPai dilengkapi dengan layar Cicadia Flex berukuran 7,8 inci yang dikembangkan sendiri oleh Royole dan jika dilipat layarnya menjadi berukuran 4 inci. Dalam mode yang dibentangkan, resolusi layar FlexPai adalah 1.920 x 1.440 (306ppi) dan memiliki rasio 4:3.

FlexPai dilengkapi dengan baterai berkapasitas 3.970 mAh, kamera ganda beresolusi 16 MP dan 20MP, sensor sidik jari di samping dan mengusung sistem operasi Water OS yang dikembangkan dari basis Android 9 Pie. Pihak Royole mengklaim bahwa sudah melakukan uji lipat layar ponsel ini sebanyak 200 ribu kali atau dua kali lipat dari para pesaingnya. Ponsel tersebut dihargai lebih murah dari produk Samsung dan Huawei, yitu US$1.344 atau Rp18 jutaan.

Inovasi ponsel berlayar lipat tidak hanya dikembangkan oleh pabrikan-pabrikan asal Asia saja. Amerika Serikat melalui Apple pun dikabarkan sedang mengembangkan teknologi layar lipat. The Verge melaporkan, pabrikan berlogo buah apel tersebut dikabarkan sudah mendaftarkan hak paten teknologi layar lipatnya ke United States Patent and Trademark Office pada Oktober 2018. Teknologi layar lipat yang dikembangkan Apple tersebut konon dapat dilipat menjadi 2 hingga 3 bagian. Teknologi itu nantinya dapat digunakan untuk berbagai perangkat mulai dari ponsel, tablet, sampai laptop. Walakin, belum ada informasi resmi kapan Apple akan melepas produk berlayar lipatnya ke pasaran kendati sejumlah pihak menduga Apple akan mulai merilis produk berlayar lipatnya pada 2020. (M-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya