Teknologi Transformer sang Masjid Berjalan

Siswantini Suryandari
08/9/2018 09:10
Teknologi Transformer sang Masjid Berjalan
(Dok. YOSU PROJECT)

BERAWAL kunjungan bisnis ke Qatar empat tahun lalu, pemilik sekaligus CEO perusahaan Yasuharu Ltd, Yasuharu Inoue, berpikir bagaimana bisa melayani umat Islam di Tokyo, tempat ia tinggal selama ini. Apalagi ia memiliki banyak teman kaum muslim.

Secara kseluruhan di Jepang ada sekitar 100ribu-200ribu umat Islam. Sayangnya, jumlah masjid yang tersedia tidak mencukupi, seperti yang ada di Indonesia atau negara-negara lain dengan mayoritas penduduk beragama Islam.

Pascakunjungan itu, Yasuharu memulai proyek yang dinamainya Yasu Project. Proyek itu menciptakan masjid berjalan berbasis teknologi.

Saat Yasuharu datang ke Jakarta pada Kamis (23/8), ia menjelaskan bahwa tergerak untuk membantu umat Islam di Jepang agar bisa memudahkan menjalankan salat lima waktu. Dia tertarik menggunakan kendaraan sebagai basis dari masjid berjalan ini, selain efisien juga bisa bergerak kemana dibutuhkan.

Tidak hanya membantu teman-teman muslimnya, pengusaha ini terinspirasi membuat masjid berjalan dari film Transformer. Dia membayangkan mobil yang bergerak dijalan bisa berubah wujud dan fungsi sebagai masjid. "Persis seperti Transformer," kata Yasu.

Untuk proyeknya ini, Ia menggunakan truk wing box berbobot 25 ton dengan lebar 2,5 meter. Kemudian truk itu didesain mirip seperti masjid portabel. Ada dua lantai di dalam masjid yang mampu menampung 50 orang. Lantai pertama merupakan tempat wudu dan lantai dua tempat salat.

Banyaknya orang bisa ditampung ke dalam masjid berjalan ini terletak pada bagian belakang truk. Di sinilah Yasuharu membuat teknologi untuk melebarkan bentuk atau istilahnya mempersonalisasi bagian bak belakang truk.

"Jadi saya desain dua sisi truk, bagian belakang bisa melebar hingga enam meter pada sisi kiri dan kanan, Itu intinya, kemudian di pintu masuk disediakan tangga," jelasnya.

Di dalam truk terdapat empat unit pendingin ruangan (AC). Untuk tempat salat pria dan perempuan dipisah dengan sebuah sekat. Seluruh interior memiliki luas 48 meter persegi. Truk tersebut tidak menggunakan listrik. Hanya ada generator dengan daya 10 KVA untuk menyalakan empat AC ini.

Pria kelahiran 1959 dan menamatkan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Fukuoka ini kemudian menciptakan sebuah teknik utama pada sisi kiri dan kanan truk. "Ada alat otomatis yang bisa membuat sisi kiri dan kanan melebar."

Yasu menyebutnya teknologi Transformer, yang digerakkan dengan alat seperti remote control. Bahkan, saat membuka pintu utama tempat masuknya orang untuk menjalankan salat juga menggunakan pintu otomatis yang dikendalikan dengan alat remote. Alat pengendali jarak jauh ini berfungsi untuk membuka pintu otomatis, melebarkan sisi kiri dan kanan truk. "Memang tidak gampang untuk membuka dan melebarkan truk, perlu latihan. Namun, kalau sudah ahli, cukup lima menit saja," tambahnya.

 

Butuh waktu

Dia menambahkan memang perlu alih teknologi apabila masjid berjalan ini masuk ke Indonesia sebab teknologi yang diciptakan khusus dan hanya ada di Jepang. Dia tidak memerinci seperti apa kekhususannya. Namun, menjadi titik utama ialah bagaimana mobil itu bisa menjadi besar. Gerakannya juga begitu smooth. "Operator harus pintar mengendalikan truk. Termasuk membuka dan menutup masjid berjalan ini," ujarnya.

Bila masjid selesai digunakan, bisa langsung ditutup dan berpindah ke tempat lain yang membutuhkan. Masjid Berjalan ini dijual dengan harga Rp14 miliar.

Selain untuk masjid, truk tersebut bisa difungsikan menjadi restoran halal. Tahun ini masjid berjalan ini sudah digunakan di Rusia pada Piala Dunia. Sebetulnya pada penyelenggaraan Asian Games di Jakarta akan didatangkan khusus dari Jepang. Namun, rencana itu batal. "Waktunya sudah mepet sekali. Jadi kami tidak bisa membawa ke acara Asian Games. Tapi nanti pada acara Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo 2020. Kehadiran Masjid Berjalan ini juga sebagai penanda 60 tahun hubungan Indonesia dan Jepang.

"Mimpi besar saya untuk misi perdamaian dan menunjukkan keramahan Jepang sebagai negara dengan beragam budaya dan agama," pungkasnya.  (M-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya