CEMOOHAN kencang di penjuru Emirates menjadi klimaks penampilan mengecewakan, menyedihkan, sekaligus amatiran yang diperlihatkan Arsenal, kemarin dini hari.
Di luar dugaan, 'Meriam London' ditekuk 1-3 oleh AS Monaco dalam leg satu 16 besar Liga Champions. Publik London utara wajar kecewa karena hasil akhir tersebut hampir pasti membuat tim kesayangan mereka tersingkir di perdelapan final untuk kali kelima beruntun dalam lima musim terakhir. Hanya kemenangan telak 3-0 atau lebih di laga dua di Monaco, Selasa (17/3) mendatang, yang mampu menyelamatkan the Gunners ke delapan besar.
Striker Monaco Dimitar Berbatov menyebut kemenangan mengejutkan itu juga disebabkan kesombongan tuan rumah sendiri. Tampaknya sebelum bertanding, mereka sudah merasa menang duluan sehingga tampil meremehkan kekuatan sang tamu.
"Tim seperti Arsenal seharusnya tidak meremehkan tim seperti kami. Jika mereka melakukannya, inilah harga yang harus mereka bayar," jelas mantan pemain Manchester United tersebut.
Berba menjadi satu dari tiga pemain the Reds and Whites yang menembus jala David Ospina. Gol perdana dibukukan Geoffrey Kondogbia (38') dan pengganti Berbatov dari bangku cadangan Yannick Ferreira Carrasco (90+4').
Tiga lesakan itu membalikkan prediksi bahwa tim asuhan Leonardo Jardim tersebut bakal bermain bertahan di Emirates. Justru Arsenal yang tampil bak mati kutu dengan Olivier Giroud tak bisa berbuat banyak meski menciptakan beberapa peluang.
Satu-satunya gol bagi tuan rumah dicetak Alex Oxlade-Chamberlain di menit 90+1. Mantan bek Arsenal yang kini berseragam Monaco, Martin Keown, yakin kekalahan telak itu menjadi pukulan berat bagi pelatih Arsene Wenger.
"Dia (Wenger) pasti merasa malu sampai ke lubuk hati dengan kekalahan ini karena ia orang Prancis dengan gengsi tinggi, tapi dia juga bukan orang yang mudah menyerah dan akan kembali berjuang di laga dua nanti," tandasnya.
Belum siap mental Wenger tidak menampik perkataan Keown dengan menyebut kekalahan itu merupakan malam mengerikan bagi dirinya dan tim. Meskipun demikian, sang juru taktik mengakui kehebatan lawannya tersebut yang mampu memanfaatkan momen saat pasukannya tengah tak tampil baik.
"Ini malam yang mengerikan. Namun, selamat untuk Monaco, mereka terus gigih berjuang dan mampu memanfaatkan celah yang kami buat sendiri," kata Wenger.
Ia justru menyalahkan para pemainnya yang tampil tak berkarakter dan emosional. Wenger bahkan menyebut lini belakangnya melakukan bunuh diri, terutama dengan mengizinkan gol ketiga terjadi sehingga kini mereka berutang banyak gol di leg kedua.
Setelah mengejar skor menjadi 1-2, Wenger mengakui anak-anak asuhnya menjadi tidak fokus di pertahanan karena ingin menyamakan skor menjadi 2-2. Namun, kelengahan itu justru menjadi tali gantungan bagi peluang mereka melaju ke delapan besar.
Meski masih dipercaya menukangi tim sekota Chelsea itu, Wenger harus mulai mewaspadai posisinya. Pemegang saham mayoritas klub Stan Kroenke yang jarang menyaksikan laga Arsenal justru berada di tribune eksekutif dan menyaksikan pembantaian malam itu.
Raut wajahnya jelas tidak bahagia ketika skor 1-3 menjadi hasil akhir. Ini bisa menjadi sinyal bahwa pria berusia 65 tahun itu harus segera membenahi tim agar tetap kompetitif di Liga Primer dan mampu lolos ke fase gugur berikutnya. (AP/R-1)