Komite Wasit PSSI Ingatkan Sportivitas dan Anti-Rasisme Buntut Insiden Bhayangkara U-20 vs Dewa United U-20

Khoerun Nadif Rahmat
24/4/2026 16:31
Komite Wasit PSSI Ingatkan Sportivitas dan Anti-Rasisme Buntut Insiden Bhayangkara U-20 vs Dewa United U-20
ilustrasi.(AFP)

KETUA Komite Wasit PSSI, Yoshimi Ogawa, memberikan teguran keras terkait insiden kericuhan yang mewarnai laga Elite Pro Academy (EPA) U-20 antara Bhayangkara Presisi Lampung FC U-20 melawan Dewa United U-20.

Meski kedua klub telah menyatakan perdamaian, Ogawa menekankan bahwa nilai sportivitas dan penghormatan antarpemain merupakan harga mati yang tidak boleh ditawar dalam ekosistem sepak bola nasional.

Kericuhan yang terjadi di Stadion Citarum, Semarang, pada Minggu (19/4) tersebut dipicu oleh protes terhadap gol kedua Dewa United yang dianggap offside.

Ketegangan di lapangan semakin memuncak hingga berujung pada konflik fisik, yang ironisnya terjadi di kompetisi usia muda dan melibatkan talenta muda potensial.

Salah satu isu krusial yang mengemuka dalam insiden ini adalah adanya dugaan ujaran bernuansa rasis yang diduga menjadi pemantik keruhnya suasana.

Menanggapi hal tersebut, Ogawa menegaskan bahwa prinsip 'No Racism' harus menjadi komitmen kolektif bagi seluruh elemen, mulai dari pemain, ofisial, hingga perangkat pertandingan. Bagi pria asal Jepang ini, sepak bola adalah panggung kemanusiaan yang harus bersih dari segala bentuk diskriminasi.

“Pemain sepak bola harus saling menghormati satu sama lain, bahkan saat bertanding. Tidak boleh ada rasisme, tidak boleh ada penghinaan. Ini sangat penting,” tegas Ogawa.

Ia menambahkan bahwa aspek keamanan di lapangan mencakup perlindungan dari tindakan diskriminatif, bukan sekadar fisik. Menurutnya, sepak bola seharusnya menjadi alat pemersatu yang menjunjung tinggi kesetaraan. “Kita adalah manusia, tidak ada perbedaan. Harus saling menghormati,” imbuhnya.

Di sisi lain, Ogawa juga menyoroti pentingnya etika komunikasi antara pemain dan perangkat pertandingan. Ia tidak menutup ruang diskusi bagi pemain, terutama kapten tim, untuk meminta penjelasan atas keputusan wasit.

Namun, hal tersebut harus dilakukan dalam koridor profesionalisme dan tidak boleh berkembang menjadi debat berkepanjangan yang mengganggu jalannya laga. “Kalau pemain bertanya dengan hormat, wasit harus menjawab. Tapi tidak perlu ada diskusi panjang. Cukup tanya, jawab, selesai,” pungkasnya.

Walaupun pertemuan di Dewa United Arena pada Rabu (22/4) telah menghasilkan kesepakatan damai antara kedua belah pihak, Komite Wasit berharap kejadian ini menjadi pelajaran berharga. Disiplin dan etika di lapangan dinilai sebagai kunci utama untuk menjaga martabat dan kualitas kompetisi sepak bola di Tanah Air. (Ndf/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya