Erick Thohir Gembira Rakha Nurkholis Damai dengan Penendang Kungfu Fadly Alberto

Khoerun Nadif Rahmat
23/4/2026 15:02
Erick Thohir Gembira Rakha Nurkholis Damai dengan Penendang Kungfu Fadly Alberto
KETUA Umum PSSI Erick Thohir memberikan apresiasi terhadap langkah Bhayangkara FC dan Dewa United yang bergerak cepat memediasi dua pemain mereka, Fadly Alberto dan Rakha Nurkholis. Rakha menjadi korban tendangan kungfu brutal Fadly.(Antara)

KETUA Umum PSSI Erick Thohir memberikan apresiasi terhadap langkah Bhayangkara FC dan Dewa United yang bergerak cepat memediasi dua pemain mereka, Fadly Alberto dan Rakha Nurkholis. Rakha menjadi korban tendangan kungfu brutal Fadly.

Upaya rekonsiliasi itu dinilai sebagai cerminan dari nilai-nilai persatuan yang harus dijunjung tinggi oleh setiap atlet.

“Saya apresiasi karena kedua klub tetap menomorsatukan persatuan dan kesatuan sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Pancasila, bahwa meskipun kita berbeda-beda daerah, tapi kita semua ini berjuang bersama demi Indonesia. Ini harus menjadi pelajaran bagi pemain,” kata Erick dalam keterangan, Kamis (23/4/2026).

Rakha terkena tendangan kungfu Fadly Alberto selepas pertandingan Bhayangkara FC U20 Vs Dewa United U20 dalam laga lanjutan Elite Pro Academy (EPA) Super League U20 2025-2026 di Stadion Citarum, Semarang, Minggu (19/4/2026).

Lebih jauh ia menegaskan bahwa segala bentuk rasisme tidak memiliki tempat dalam sepak bola Indonesia.

Menyikapi dugaan insiden rasisme di ajang Elite Pro Academy (EPA), PSSI menuntut sikap tegas dan tanggung jawab dari seluruh operator kompetisi maupun klub untuk menjaga integritas olahraga.

Erick menggarisbawahi bahwa sepak bola usia muda bukan sekadar urusan memburu kemenangan atau memoles kemampuan teknis.

Lebih dari itu, pembinaan di level akar rumput harus menjadi pondasi kuat dalam pembentukan karakter, pengendalian emosi, hingga penghormatan terhadap lawan dan perangkat pertandingan.

“FIFA dan PSSI tidak membenarkan segala bentuk ucapan dan ungkapan rasisme di sepak bola. Baik di kancah internasional dan juga nasional. Sejak usia muda, pemain harus dibentuk dengan prinsip fair play, anti-rasisme, toleransi, disiplin, dan penghormatan kepada wasit,” ujar Erick dalam keterangannya.

Erick pun meminta I-League selaku operator EPA, serta pengelola Liga 1 dan Liga 2, untuk terus menggaungkan sikap saling menghargai dan empati.

Sosialisasi mengenai anti-kekerasan dan kepatuhan terhadap aturan pertandingan harus diperkuat agar kompetisi menjadi ruang belajar yang sehat dan mendidik bagi para talenta muda.

Langkah pengawasan pertandingan juga didorong untuk diperketat. Menurut Erick, sinergi antara operator, klub, dan ofisial sangat krusial agar pembinaan karakter berjalan selaras dengan pengembangan teknik di lapangan.

“Kompetisi usia muda harus menjadi wadah tumbuhnya pemain yang lebih dewasa, matang, dan berkemampuan mumpuni. Karena itu, operator, klub, ofisial, dan seluruh pemangku kepentingan harus memastikan pembinaan karakter berjalan sekuat pembinaan teknik,” imbuhnya. (Ndf/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya