Prancis Dukung Indonesia Bangun Ekosistem Sepak Bola Perempuan

Ferdian Ananda Majni
15/4/2026 18:55
Prancis Dukung Indonesia Bangun Ekosistem Sepak Bola Perempuan
Menpora Erick Thohir (kiri)(Dok:Institut francais d'Indonesie)

INDONESIA dan Prancis memperkuat kerja sama strategis melalui program FFF x PSSI: Empowering the Next Generation of Women’s Football guna mendorong pengembangan sepak bola putri. Pembinaan tersebut mulai dari pembinaan usia dini hingga pelatihan di level internasional.

Program ini berlandaskan semangat warisan Olimpiade dan Paralimpiade Paris 2024 serta momentum menuju Piala Dunia FIFA 2026. 

Kolaborasi ini didanai bersama oleh Kedutaan Besar Prancis di Indonesia, Federation Francaise de Football (FFF), dan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), sebagai bentuk komitmen terhadap pemberdayaan pemuda, kesetaraan gender, serta diplomasi olahraga jangka panjang.

Sepak bola sebagai olahraga populer dunia dinilai masih menyisakan tantangan bagi perempuan, termasuk keterbatasan akses pelatihan, jalur karier profesional, hingga representasi di posisi kepemimpinan. 

Melalui program ini, kedua negara berupaya menjawab kesenjangan tersebut dengan memperkuat kapasitas teknis, kepemimpinan, serta tata kelola sepak bola putri secara berkelanjutan.

Inisiatif ini juga merupakan pengembangan dari program sebelumnya, Bola d’Or Indonesia, yang diluncurkan pada 2024 oleh Institut francais d'Indonesie bersama FFF dan French School Jakarta. 

Program tersebut berfokus pada pencarian dan pembinaan talenta muda melalui beasiswa, pelatihan elite, serta akses pendidikan.

Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menyambut baik kolaborasi ini sebagai langkah percepatan pengembangan sepak bola perempuan di Indonesia.

"Kami menyambut baik kolaborasi melalui program FFF x PSSI ini sebagai langkah nyata percepatan perkembangan sepak bola perempuan di Indonesia. PSSI percaya, kemajuan sepak bola tidak hanya diukur dari prestasi timnas, tetapi juga seberapa besar kita memberi kesempatan setara bagi generasi muda, termasuk perempuan, untuk berkembang dan berprestasi bersama," kata Erick di Institut francais d'Indonesie Jakarta, Rabu (15/4).

Ia menambahkan bahwa kerja sama ini menjadi momentum penting untuk memperkuat fondasi sepak bola nasional.

"Kerja sama dengan Federasi Sepak Bola Prancis dan Kedutaan Besar Prancis menjadi momentum untuk belajar dari pengalaman negara yang memiliki tradisi sepak bola kuat, sekaligus memperkuat fondasi pembinaan pemain, pelatih, dan tata kelola sepak bola di Indonesia. Semoga akan lahir talenta-talenta baru yang mempercepat kemajuan sepak bola perempuan Indonesia yang berkelanjutan," tambahnya.

Sementara itu, Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, menegaskan bahwa program ini mencerminkan komitmen bersama dalam mendorong inklusivitas di bidang olahraga.

"Inisiatif ini mencerminkan komitmen bersama: untuk memberikan lebih banyak peluang bagi perempuan di bidang olahraga, mengurangi kesenjangan struktural, serta menjalin kemitraan dengan Indonesia demi pengembangan sepak bola yang lebih inklusif secara umum," ujarnya.

Program ini dirancang secara komprehensif dengan target menjangkau lebih dari 500 peserta secara langsung, serta memberikan dampak luas melalui transfer pengetahuan dan penguatan kelembagaan.

Pada aspek pengembangan pemain, sekitar 400 pemain akan dilatih di Indonesia, sementara 25 pemain akan mengikuti pelatihan lanjutan di Prancis. Program ini mencakup penguatan teknis, taktis, dan psikologis, serta kunjungan budaya dan institusional.

Di bidang pelatihan pelatih, sebanyak 60 pelatih akan mendapatkan pelatihan di dalam negeri, dengan lima pelatih terpilih mengikuti program lanjutan di Prancis. 

Materi yang diberikan meliputi pedagogi inklusif, metodologi modern, hingga perencanaan pengembangan jangka panjang.

Selain itu, program manajemen dan hukum olahraga melibatkan 20 peserta dari Garuda Academy, dengan lima peserta berkesempatan mengikuti pertukaran profesional di Prancis. 

Fokusnya mencakup tata kelola, struktur kompetisi sepak bola putri, serta dialog kelembagaan dengan pemangku kepentingan sepak bola Prancis.

Sebagai bagian dari program Next Goal, kegiatan coaching clinic telah digelar pada 11-12 April 2026 di Stadion Sidolig, Bandung. 

Kegiatan ini dipandu oleh instruktur dari akademi sepak bola Prancis, seperti Jean-Claude Lafargue dan Ludovic Debru, serta melibatkan pemain seperti Syafia Chorlienka, Layvin Kurzawa, dan Laita Roati.

Sesi lanjutan di Prancis dijadwalkan berlangsung pada Mei 2026, termasuk pelatihan di pusat nasional Clairefontaine serta kunjungan ke kantor FFF/FIFA dan Kementerian Olahraga Prancis.

Ke depan, program ini juga diarahkan untuk mendukung penandatanganan nota kesepahaman antara FFF dan Garuda Academy, sekaligus menyusun peta jalan kerja sama olahraga kedua negara. 

Pada 2026, kedua pihak menargetkan penguatan fondasi struktural sepak bola putri Indonesia agar mampu bersaing lebih kompetitif di tingkat regional maupun internasional. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya