Kolaborasi RI-Prancis Dorong Sepak Bola Putri Tembus Level Dunia

Ferdian Ananda Majni
15/4/2026 17:59
Kolaborasi RI-Prancis Dorong Sepak Bola Putri Tembus Level Dunia
Konferensi pers bertajuk FFF x PSSI: Empowering the Next Generation of Women's Football, From Grassroots Development to Clairefontaine yang digelar oleh Institut francais d'Indonesie di Jakarta, Rabu (15/4).(Antara)

KOLABORASI antara Indonesia dan Prancis dalam pengembangan sepak bola putri terus diperkuat melalui program bersama Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan Federation Francaise de Football (FFF). 

Program ini mencakup pelatihan, festival usia dini, hingga peningkatan kapasitas pelatih guna mendorong talenta muda menuju level global.

Inisiatif tersebut diperkenalkan dalam konferensi pers bertajuk FFF x PSSI: Empowering the Next Generation of Women's Football, From Grassroots Development to Clairefontaine yang digelar oleh Institut francais d'Indonesie di Jakarta, Rabu (15/4).

Kerja sama ini secara resmi menandai komitmen kedua negara dalam mengembangkan akademi sepak bola putri, termasuk rencana pengiriman pemain Timnas Indonesia Putri ke Prancis untuk menjalani pelatihan. 

Penandatanganan kesepakatan berlangsung di Kedutaan Besar Prancis di Jakarta dengan dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Ketua Umum PSSI Erick Thohir, anggota Exco PSSI Vivin Cahyani, Duta Besar Prancis Fabien Penone, serta perwakilan FFF Ludovic Debru.

Salah satu fokus utama program ini adalah pengembangan akademi sepak bola perempuan melalui berbagai kegiatan, termasuk coaching clinic. Vivin Cahyani menjelaskan bahwa program tersebut dirancang berkelanjutan dan mencakup berbagai tahap pembinaan.

"Program kita ini adalah berkelanjutan. Yang pertama adalah coaching clinic yang kita adakan pada tanggal 11 dan 12 kemarin di Bandung," kata Vivin.

"Kemudian workshop untuk sports management kemarin di FIFA Office yang digagas oleh Garuda Academy bersama pemerintah Prancis," tambahnya.

Lebih lanjut, Vivin mengungkapkan bahwa PSSI akan mengirim total 28 delegasi ke pusat pelatihan sepak bola nasional Prancis di Clairefontaine. Delegasi tersebut terdiri dari 20 pemain dan delapan ofisial, termasuk skuad Timnas Putri U-17.

"Terakhir kegiatan pengiriman Timnas Junior (U-17) ke Clairefontaine. Kami mengirim 28 delegasi ke Clairefontaine. Ada 20 pemain dan delapan ofisial," sambungnya.

Clairefontaine sendiri dikenal sebagai pusat pelatihan elite sepak bola Prancis dan pernah menjadi lokasi pertandingan Timnas Indonesia U-23 saat menghadapi Guinea dalam Kualifikasi Olimpiade Paris 2024.

Sementara itu, Ludovic Debru menilai bahwa pengembangan sepak bola putri di Indonesia memiliki kesamaan dengan yang terjadi di Prancis. Menurutnya, kedua negara menghadapi tantangan serupa dalam meningkatkan partisipasi perempuan di dunia sepak bola.

"Kami adalah federasi saudara, jadi kami memiliki tantangan yang sama, persis sama. Ada hal-hal yang bisa kami ubah dan hal-hal lain yang tidak bisa," ucapnya

"Tetapi melibatkan lebih banyak perempuan dalam sepak bola adalah sesuatu yang baru sejak Piala Dunia 2019 di Prancis, di mana semakin banyak perempuan yang mencari pertandingan sepak bola, tidak hanya pertandingan pria tetapi juga pertandingan wanita," jelas Debru.

Ia menambahkan bahwa program seperti ini menjadi kunci dalam mendorong perubahan generasi. 

"Jadi saya pikir ini bukan masalah tentang apa yang sulit, tetapi lebih tentang apa yang bisa kita lakukan. Dan program semacam ini adalah targetnya. Semakin banyak Anda terlibat dan generasi juga berubah. Anda dapat melihat gadis-gadis kecil, Anda dapat melihat wanita muda, jadi itu akan menjadi dunia yang berbeda," lanjutnya.

Di sisi lain, Duta Besar Prancis Fabien Penone menegaskan bahwa isu pengembangan sepak bola perempuan merupakan tantangan global, bukan hanya di Indonesia dan Prancis. Ia menyoroti pentingnya representasi dan pemberdayaan perempuan dalam olahraga.

"Isu olahraga perempuan bukan hanya isu bagi Indonesia, tetapi isu di seluruh dunia. Kami juga berjuang, mengalaminya di Prancis. Ini adalah isu organisasi, tetapi pada dasarnya ini adalah isu representasi, pemberdayaan perempuan," jelas Penone.

"Apa yang kami lakukan di Prancis, apa yang Anda lakukan di sini, adalah menciptakan peluang bagi para gadis muda ini untuk merasa cukup percaya diri untuk menjadi pemain di masa depan," pungkasnya.

Program ini diharapkan menjadi fondasi kuat dalam membangun sepak bola putri Indonesia yang kompetitif dan berkelanjutan di tingkat internasional. (Fer/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya