DI tengah terpaan kasus korupsi yang menimpa Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) di akhir masa kepemimpinannya, Joseph S Blatter tetap dipercaya memimpin badan yang mengelola induk organisasi olahraga terpopuler di dunia itu.
Blatter mengalahkan Pangeran Ali bin Al Husein yang memilih mundur dari pemilihan setelah suaranya kalah di putaran pertama pemungutan suara dalam kongres FIFA yang berlangsung di Zurich, Swiss.
"Saya akan bertanggung jawab untuk mengembalikan FIFA ke tampat yang seharusnya. Saya menjanjikan di masa akhir kepemimpinan saya nanti FIFA akan berada dalam posisi yang kuat. Ayo FIFA," kata pria 79 tahun itu dalam pidato kemenangannya seusai terpilih kelima kalinya sebagai Presiden FIFA.
Kasus korupsi yang menjerat sejumlah pejabat teras FIFA yang ditangkap kepolisian Swiss dua hari jelang pemungutan suara Presiden FIFA, diakui Blatter menjadi tugas pertama yang mesti dituntaskannya. Namun, pria yang telah memimpin FIFA sejak 1998 itu menegaskan bahwa korupsi dilakukan sejumlah oknum di FIFA bukan merupakan hasil karya organisasi.
Tantangan berikutnya yang harus dihadapi Blatter ialah arus ketidakpercayaan yang ditujukan kepadanya. Salah satu bentuk ketidakpercayaan itu diperlihatkan mantan bos klub Manchester United David Gill yang menolak menjadi Wakil Presiden FIFA.
Gill bahkan memboikot rapat komite eksekutif FIFA yang berlangsung, Sabtu (30/5) di Zurich.
"Tindakan ini bukanlah sesuatu yang mudah saya ambil, tetapi sejumlah peristiwa besar yang terjadi sepanjang pelaksanaan kongres telah meyakinkan saya bahwa bukanlah saat yang tepat untuk menjadi anggota Komite Eksekutif FIFA di era kepemimpinan saat ini," kata Gill yang menambahkan tidak bisa melihat masa depan FIFA di bawah Blatter.
Aksi Gill dibalas Blatter dengan menyebutkan tindakan itu bukan menunjukkan sebuah tanggung jawab. "Anda sudah terpilih dan seharusnya Anda datang siapa pun yang menjadi Presiden FIFA," sindir Blatter yang ingin mendengar langsung alasan Gill tak datang ke rapat Komite Eksekutif.
Nada kekecewaan terhadap terpilihnya Blatter juga disuarakan oleh Ketua Federasi Sepak Bola Australia, Frank Lowy. Meski kecewa, ia siap menagih janji Blatter untuk mengembalikan reputasi FIFA seusai didera kasus korupsi.
"Dia (Blatter) tahu dengan pasti bahwa saat ini FIFA dihadapkan dengan tantangan untuk mengembalikan FIFA ke tempat yang seharusnya. Kami di Australia memastikan diri akan memainkan peran bersama dnegan asosiasi lainnya untuk mencapai target tersebut," kata Lowy.
Kampanye kebencian Blatter mengaku terkejut dengan pernyataan sejumlah pejabat tinggi Amerika Serikat termasuk Jaksa Agung Loretta Lynch yang menyatakan korupsi di sepak bola merupakan kegiatan yang terstruktur, sistemis, dan mengakar.
"Saya terkejut karena saya saja tidak mungkin memberikan pernyataan terhadap organisasi lain tentang sesuatu yang belum pasti," tutur Blatter.
Blatter menduga sejumlah aksi yang dilakukan sebelum pemungutan suara Presiden FIFA merupakan upaya untuk melakukan intervensi terhadap kongres dan juga kampanye kebencian yang ditujukan kepadanya oleh beberapa negara Eropa. Intervensi AS diduga Blatter akibat kekalahan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.
"Dari Eropa, ini merupakan kebencian yang bukan hanya dilontarkasatu orang di UEFA, tapi menyangkut seluruh organisasi UEFA yang tidak bisa menerima kemenangan saya sebagai presiden," tandas Blatter. (AFP/AP/R-4)