MENU spesial yang bernama semifinal Liga Champions siap tersaji. Dalam undian yang berlangsung di markas UEFA di Nyon, Swiss, kemarin, Barcelona dipastikan akan menghadapi tim favorit lainnya Bayern Muenchen, sedangkan juara bertahan Real Madrid akan ditantang Juventus.
Tidak semua orang tentu senang dengan undian tersebut. Para pendukung Barca dan Muenchen boleh jadi kecewa, karena mereka berharap tim kesayangan mereka bertemu di partai puncak.
Sebaliknya, sebagian besar penggila sepak bola di Spanyol sangat puas. Sebab harapan mereka untuk melihat laga El Clasico di partai puncak Liga Champions berpeluang menjadi kenyataan. "Tentu saja hanya sepak bola yang bisa menulis cerita seperti ini. Sungguh saya sudah tidak sabar menghadapi laga itu," ujar direktur olahraga Muenchen, Matthias Sammer.
Boleh jadi duel Barca dengan Muenchen memang yang paling dinanti. Sebab itu akan menghadirkan romantisme tersendiri bagi arsitek Muenchen, Pep Guardiola.
Apalagi baru kali pertama dia berhadapan dengan Barca sejak meninggalkan klub tersebut pada 2012 silam. Ditambah lagi, dia akan menghadapi mantan rekan setimnya di Barca yang kini menjadi arsitek klub tersebut, Luis Enrique.
Guardiola memang pernah begitu identik dengan Barcelona. Begitu pun sebaliknya. Bersama Guardiola, Los Cules memang pernah mengalami masa keemasan.
Lewat permainan tiki-taka, Blaugrana bukan saja sukses menguasai ranah sepak sepak bola Spanyol, melainkan Eropa dan dunia. Itu bisa dilihat dari 14 trofi yang dipersembahkan Guardiola selama empat tahun menukangi Barca.
Namun, kini ia harus membunuh klub yang pernah dibesarkannya itu demi tiket ke final tim besutannya, Muenchen.
"Itu akan menjadi laga yang istimewa karena ada Pep sebagai lawan. Ini kali pertama dia menghadapi Barcanya dan ini kali pertama saya menghadapi dia sebagai pelatih. Tentu itu akan sangat spesial bagi saya dan para pemain," cetus Enrique.
Tidak inferior Sementara itu, nuansa Italia tidak bisa lepas dari laga semifinal lainnya antara Real Madrid dan Juventus. Sebab selain berasal dari Italia, arsitek Madrid Carlo Ancelotti pernah menukangi La Vecchia Signora pada periode 1999–2001.
Itu sebabnya, Ancelotti tahu betul kekuatan Juve. Ia pun mewaspadai ledakan 'si Nyonya Tua'.
"Mereka menjalani musim yang bagus dan sudah pasti bakal menjuarai Seri A. Jadi mereka bisa benar-benar fokus ke Liga Champions," ujar Ancelotti.
Di sisi lain, Direktur Juve, Pavel Nedved mengaku tidak gentar dengan nama besar Madrid. "Kami ingin melakukan sesuatu yang hebat dan bersejarah dalam sepak bola Italia," kata Nedved. (AFP/AP/R-2)