FAKTA bahwa sepak bola merupakan olahraga yang digilai di seluruh dunia merupakan sesuatu yang tidak bisa dimungkiri. Itu bisa dilihat dari hajatan yang mereka gelar. Mulai dari skala internasional, benua, nasional, bahkan antarkampung, sekalipun orang-orang selalu saja berduyun-duyun menyaksikannya. Padahal tidak jarang sebuah laga berakhir ricuh.
Namun begitu, hal tersebut tetap tidak mengurangi minat orang-orang untuk menyaksikannya. Tidak mengherankan jika segala aktivitas organisasi yang menaungi cabang olahraga itu pun selalu memancing perhatian.
Celakanya, kondisi itu membuat organisasi tersebut arogan. FIFA sebagai otoritas sepak bola internasional seolah punya kuasa mutlak atas semua federasi yang ada di bawahnya.
Kekuasan mereka bahkan melintasi batas-batas negara. FIFA seolah punya hak untuk memberi sanksi kepada mereka yang membangkang. FIFA juga mengharamkan betul intervensi negara.
Tidak mengherankan jika semua-federasi nasional begitu takut pada FIFA. Alhasil federasi-federasi itu kerap berlindung di balik otoritas sepak bola dunia itu, termasuk PSSI. Federasi sepak bola nasional itu sendiri terancam sanksi FIFA setelah dibekukan Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Situasi itu bukannya tidak disadari Menpora Imam Nahrawi. Ia pu me-ngaku siap bertanggung jawab.
Sementara itu, mantan pemain nasional Ferril J Hattu menyatakan pembekuan PSSI bisa menjadi momentum untuk berbenah. ''Kita ambil sisi positifnya saja. Sepak bola kita perlu ada reformasi berani,'' kata Ferril di Surabaya.
Terkait dengan ancaman sanksi dari FIFA, Ferril menyatakan tidak perlu ditakutkan, sebab banyak pula negara yang terkena sanksi akhirnya malah maju.
Dia memberikan contoh Yunani, Iran, Kuwait, Qatar, dan Singapura. ''Kita mesti malu ranking kita kalah dari Timor Leste,'' katanya.
Hal senada dikatakan pengamat sepak bola Bob Hippy. Menurut dia, seharusnya PSSI melihat akar masalahnya.(Mln/FL/R-3)