KEPUTUSAN pemerintah membekukan PSSI menjadi agenda pertama yang akan disikapi Komite Eksekutif (Exco) PSSI.
Hal itu dikatakan Sekjen PSSI Joko Driyono di sela Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI yang berlangsung di Surabaya.
Walau demikian, Joko mengatakan Exco tidak akan terburu-buru merespons keputusan pemerintah itu.
"Kita endapkan dulu," jelasnya.
Ketua umum baru PSSI, La Nyalla Mattalitti, menambahkan pihaknya memang akan segera menyikapi keputusan pemerintah itu.
"Masalah ini akan kami bahas pada rapat Exco secepatnya," katanya.
La Nyalla mengatakan pihaknya akan menemui Menpora Imam Nahrawi yang telah menandatangani surat pembekuan per 17 April 2015.
Selain masalah pembekuan oleh pemerintah, KLB PSSI tahun ini juga diwarnai sejumlah kejadian mengejutkan.
Dalam pemilihan ketua umum, beberapa calon ketua umum mengundurkan diri menjelang pemungutan suara, termasuk Joko.
Selain itu, tiga calon lainnya memilih mengundurkan diri, yakni Achsanul Qosasih, Sarman, serta ketua umum petahana, Djohar Arifin Husin.
Joko yang dinilai menjadi pesaing terberat La Nyalla memutuskan tidak bertarung karena menganggap itu merupakan hal terbaik untuk sepak bola Indonesia.
"Saya memilih mundur karena ini yang terbaik untuk Indonesia dan sepak bolanya, serta PSSI itu sendiri," sebutnya.
Djohar mengaku keputusan untuk mundur karena ia tidak ingin memanfaatkan posisinya sebagai incumbent untuk kembali memimpin PSSI.
"Terima kasih dan mohon maaf saya tidak ingin memanfaatkan jabatan incumbent untuk menjaga kedudukan. Maka dengan menjaga keharmonisan dan semangat kebersamaan, saya memutuskan untuk mengundurkan diri," jelas Djohar.
Dalam pemilihan, La Nyalla meraih suara terbanyak.
Dari 106 pemilik suara yang hadir, La Nyalla meraih 92 suara.
Ia unggul jauh dari saingan terdekatnya, Syarif Bastaman, yang hanya mendapat 14 suara.
Sementara itu, Subardi, Muhammad Zein, dan Benhard Limbong tidak mendapat suara.
Satu pemilik suara, PSS Sleman, memilih tidak menghadiri kongres.