Tanpa Neymar dan Cavani, Mbappe Sendiri pun Jadi

Satria Sakti Utama
14/2/2019 01:00
Tanpa Neymar dan Cavani, Mbappe Sendiri pun Jadi
(FRANCK FIFE / AFP)

PARIS Saint-Germain benar-benar menjadi mimpi buruk bagi Manchester United. Mereka bukan saja mempermalukan 'Setan Merah' di kandangnya sendiri, Old Trafford, melainkan juga membuat bulan madu MU dengan Ole Gunnar Solskjaer berakhir tragis.

MU memang harus menerima kenyataan pahit ketika menjalani laga leg pertama babak 16 besar Liga Champions Eropa di kandang sendiri, kemarin. United kalah 0-2 dari raksasa Prancis itu akibat gol bek Presnel Kimpembe dan striker belia Kylian Mbappe di babak kedua.

Bukan itu saja. Sejumlah rentetan rekor buruk turut tercipta yang menambah aib Marcus Rashford dkk. Kekalahan lebih dari satu gol di Old Trafford menjadi catatan yang baru pertama kali dirasakan Manchester United. Rival sekota Manchester City ini tak pernah merasakan kekalahan yang sama sebelumnya.

Selain itu, PSG menjadi tim asal Prancis pertama yang menaklukkan United di 'the Theater of Dreams', julukan Old Trafford. United sudah 14 kali bersua tim-tim dari Prancis di pentas Eropa dan tak pernah terkalahkan, 10 kali kemenangan dan empat seri.

Khusus Manajer Manchester United Ole Gunnar Solskjaer, kekalahan ini menjadi yang pertama sejak ditunjuk sebagai suksesor Jose Mourinho pada Desember lalu. Pelatih berpaspor Norwegia itu mengukir 10 kemenangan dan sekali kalah sebelum dipermalukan 'Les Parisiens', julukan PSG. Ia juga menjadi manajer United kedua yang kalah di pertandingan perdana Liga Champions setelah Louis van Gaal.

Menanggapi kekalahan dan sederetan rekor buruk ini, Solskjaer masih menyimpan rasa optimistis anak didiknya dapat bangkit. Ia percaya mereka bisa membalikan keadaan pada laga leg kedua di Paris awal Maret mendatang.

"Ini bukan laga yang akan menentukan baik-buruknya musim kami. Ini merupakan laga yang akan menjadi pembelajaran. Kami masih punya keyakinan besar."

Meskipun demikian, Solskjaer secara tersirat menunjukkan rasa tidak puas dengan penampilan sejumlah pemainnya, terutama Alexis Sanchez. Eks pemain Arsenal itu dinilai tampil sangat buruk. "Saya tidak bisa berbuat apa pun soal Alexis. Dia harus mencari solusinya sendiri karena kita tahu dia merupakan pemain yang berkualitas," imbuhnya.

Di sisi lain, PSG mengaku puas dengan kemenangan itu. Kylian Mbappe bahkan menyebut bahwa tanpa Neymar dan Edinson Cavani sekali pun, mereka tetap tim yang berbahaya.

"Kita harus menghentikan cerita seram. Orang tidak boleh lagi takut. Neymar memang penting, begitu pun Cavani, tetapi sepak bola dimainkan di lapangan kami, kami sudah menunjukan itu," tegas Mbappe.

Jaga ritme
Arsitek PSG Thomas Tuchel menilai keberhasilan timnya menundukkan MU tidak didapat dengan mudah. Ia memuji penampilan Thiago Silva dkk yang sangat tenang dan mampu menjaga ritme permainan.

"Ketika kami tak menguasai penguasaan bola, kami bekerja keras untuk menutup celah yang ada. Kami siap berlari, tapi juga bermain dengan dingin dan tenang. Lini tengah kami menjaga ritme dan mengontrol bola," kata Tuchel.

Faktanya, ‘Les Parisiens’ memang baru benar-benar mengambil alih permainan di paruh kedua. Mereka memanfaatkan lubang di lini pertahanan MU yang terbuka karena terlalu fokus mengejar bola.

"Di babak kedua, kami menjadi sangat mengontrol permainan. Itulah mengapa kami memenangi pertandingan. Tapi kami baru di setengah jalan dan kami siap untuk menghadapi mereka di sisa pertarungan," imbuh mantan pelatih Borussia Dortmund itu. (AFP/BBC/R-2)

 

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya