Saatnya PSSI Bersih-Bersih

M Taufan SP Bustan
30/1/2019 03:45
Saatnya PSSI Bersih-Bersih
(ANTARA/WAHYU PUTRO A)

MUNDURNYA Edy Rahmayadi dari jabatan sebagai Ketua Umum PSSI sejatinya menjadi kesempatan bagi federasi sepak bola Indonesia untuk berbenah diri. Meski begitu, calon ketua umum pengganti Edy nantinya harus bersih dan mengerti sepak bola.

Hal tersebut diungkapkan pengamat sepak bola Ferril Raymond Hattu. Menurut dia, kandidat ketua umum bisa dari kalangan mana saja,  tapi paham sepak bola.

“Nilai tambah juga kalau dia berpengalaman memimpin organisasi dan bisa mengatur manajerial,” terang Ferril, Selasa (29/1).

“Kalau tidak paham dengan sepak bola, bagaimana dia mau mengembangan organisasi? Bagaimana dia mau mengembangkan sepak bola di Indonesia?” lanjut mantan pemain timnas tersebut.

Siapa pun orang yang ingin menyembuhkan atau membawa perubahan bagi PSSI, kata dia, harus didukung. Pemain yang ikut membawa timnas meraih medali emas sepak bola di SEA Games 1991 itu bahkan mendorong digelarnya kongres luar biasa (KLB) agar orang yang bersih dan peduli dengan sepak bola Indonesia bisa masuk.

“Tidak hanya ketua, tapi semua pengurus di dalamnya itu diganti. Orang-orang lama itu diganti semua. Kita ingin sepak bola maju dan organisasi bersih dari orang-orang sakit,” ujar Ferril.

Senada, klub Liga 3 ­Celebest FC juga mendukung pergantian seluruh pengurus PSSI. Alasan klub asal Palu, Sulawesi Tengah, itu mendukung perombakan karena menilai PSSI masih dihuni orang-orang yang terindikasi terlibat pengaturan pertandingan.

“Harus ada kongres, seluruh pengurus PSSI saat ini diganti,” ujar Media Officer Celebest FC, Abdee Mari.

Sementara itu, mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dipastikan menolak dicalonkan sebagai Ketua Umum PSSI. Hal itu diungkapkan mantan Wakil Gubernur DKI yang juga sahabat Ahok, Djarot Saiful Hidayat.

“Saya sudah ngomong sama dia, untuk PSSI dia bilang enggak. Dia enggak tertarik di PSSI,” kata Djarot di kawasan Menteng, Jakarta, Selasa (29/1).

Djarot menambahkan BTP menyarankan posisi PSSI di­serahkan kepada orang yang mengerti. Djarot menyebut sosok seperti Erick Thohir dinilai tepat mengisi posisi Ketua Umum PSSI.

“Pak Erick Thohir aja, dia sudah pengalaman juga, sudah terbukti punya klub, dan ambil sosok yang tidak terkait dengan partai politik,” ujarnya

Konsolidasi internal
Pendapat berbeda di lontarkan klub Liga 1 Semen Padang FC. Manajemen tim berjuluk ‘Kabau Sirah’ itu  menyarankan pengurus PSSI untuk fokus pada konsolidasi internal ketimbang menggelar KLB.

Alasannya, selain membutuhkan waktu cukup panjang, pada Kongres PSSI di Bali pekan lalu juga tidak dibuat tim ad hoc untuk menyiapkan KLB. “Sesuai Statuta FIFA, harus dibentuk dulu tim ad hoc oleh voters di kongres terakhir dan bekerja sampai 3 bulan. Selanjutnya menyiap­kan KLB butuh 6 bulan,” cetus CEO Semen Padang FC, Rinold Thamrin.

“Jadi, kalaupun ada tuntut-an KLB, harusnya di kongres kemarin diputuskan. Kalau tidak, tunggu lagi kongres pada Januari 2020. Jadi bukan kami memilih (KLB atau tidak), tapi kondisinya sesuai Statuta FIFA, seperti itu,” tukasnya. (Mal/YH/R-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya