Vigit Waluyo Mulai Bernyanyi

Faishol Taselan
25/1/2019 06:40
Vigit Waluyo Mulai Bernyanyi
( ANTARA FOTO/Umarul Faruq/hp.)

TERSANGKA kasus dugaan pengaturan skor yang juga pengelola klub PS Mojokerto Putra, Vigit Waluyo, mulai buka-bukaan seusai menjalani pemeriksaan di Mapolda Jawa Timur. Menurutnya, soal pengaturan skor itu yang paling paham ialah PSSI.

"PSSI yang memiliki kewenangan penuh. PSSI sangat paham soal ini," kata Vigit kepada wartawan di Mapolda Jatim, Surabaya, kemarin.

"Di dalam ini mereka yang lebih paham tentang awal penjadwalan sampai eksekusi. Silakan tanya ke PSSI yang paham ini sebab biasanya sampai terakhir sudah ada yang digadang-gadang untuk prestasi yang baik," katanya.

Ia tidak memungkiri telah menyetor Rp25 juta untuk mengamankan timnya. Uang ini dia berikan agar timnya tak dikerjai wasit. Dia mengaku menyetor uang itu kepada salah satu anggota Komite Wasit PSSI, yaitu Nasrul Koto.

"Uang itu hanya untuk memberikan kontribusi dari tekanan yang diberikan oleh beberapa pihak di PSSI. Jadi, kami berikan uang itu untuk menjamin agar kami tidak dikerjai," kata Vigit.

Meski terlibat dalam penyuapan oknum wasit, Vigit menolak disebut telah terlibat dalam pengaturan skor. "Kami tidak pernah melakukan pengaturan skor sama sekali."

Selain PS Mojokerto, ia juga membantu PSS dan Kalteng Putra. "Klub yang dengan saya hanya PS Mojokerto Putra, PSS Sleman, dan Kalteng Putra. Mereka meminta saya membantu memenangi pertandingan," kata Vigit lagi.

"Setelah itu, pertandingan kami aman-aman saja. Maksudnya sudah tidak lagi diganggu dari perwasitan," jelas pria asal Sidoarjo itu.

Sementara itu, Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria mengaku telah berkoordinasi dengan FIFA terkait dengan kasus pengaturan skor di Indonesia. "Pasti, sejak awal, yaitu sejak 2017, saya jadi sekjen pertama adalah memerangi match fixing dan kepada FIFA sudah laporkan hal itu," kata Ratu Tisha seusai mendampingi pemeriksaan Plt Ketum PSSS Joko Driyono oleh Satgas Antimafia Bola di Mapolda Metro Jaya, kemarin.

"November 2018, menganugerahi PSSI sebagai satu dari dua federasi terbaik sebagai percontohan di bidang pengembangan sepak bola. Bisa dicek di website FIFA bahwa FIFA ignolence mengenai hal itu dan kami diundang spesial di Doha November 2018," lanjutnya.

Desakan KLB

Mengenai adanya desakan dari sejumlah pihak agar PSSI menggelar kongres luar biasa (KLB) pascamundurnya Edy Rahmayadi, Ratu Tisha mengatakan hal itu bisa saja. Namun, secara administrasi harus dilengkapi dan disepakati bersama.

"PSSI adalah terdiri atas anggotanya, seluruh keinginan akan kita akomodasi dengan lengkapi administrasi."

Ia menyebut seluruh manajemen klub telah sepakat mengikuti semua rangkaian sehingga adanya komitmen bersama untuk menggaungkan cita-cita persepakbolaan nasional bisa lolos ke Olimpiade 2024 dan Piala Dunia 2034.

"Perlu dicatat kongres kemarin klub-klub sepakat bahwa program kita sangat banyak menuju 2020 karena ini fondasi fase development terakhir sebelum goal PSSI 2024 untuk Olimpiade," sebutnya.

Oleh karena itu, semua pihak yang berpartisipasi dalam pertemuan itu akan fokus menjalankan program kerja hingga kongres berikutnya. (Goal/R-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya