Satgas Selidik 60 Dugaan Aksi Mafi a di Liga 2 dan 3

(Opn/Fer/J-3)
06/1/2019 07:45
Satgas Selidik 60 Dugaan Aksi Mafi a di Liga 2 dan 3
(MI/Susanto)

TUNTAS mengantar Mbah Putih dan kawan-kawan ke pengadilan, dalam waktu dekat, tidak membuat kerja Satuan Tugas Antimafia Bola berhenti. Seperti diungkapkan juru bicara satgas, Komisaris Besar Suhardianto BD, pihaknya tidak akan berhenti mengawasi praktik suap dan pengaturan skor di semua liga di Tanah Air.

“Kerja satgas tidak ada batasan. Kami akan terus bekerja hingga tidak ada lagi mafia bola di semua liga di Indonesia,” tutur juru bicara Satgas Antimafia Bola itu, kemarin.

Suhardianto menambahkan, sampai kemarin, pihaknya sudah menerima 278 laporan dugaan pengaturan skor. Dari jumlah itu, 60 di antaranya tengah ditindaklanjuti dengan penyelidikan. “Kebanyakan terkait Liga 2 dan 3.”

Satgas dibentuk oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian pada 12 Desember 2018. Tim ini diperkuat oleh 145 anggota Polri.

Gebrakan awal satgas ialah membedah mafia pengaturan skor di Liga 3. Empat orang sudah dijadikan tersangka, yakni anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Johar Lin Eng, anggota Komisi Disiplin PSSI Dwi Irianto alias Mbah Putih, mantan anggota Komisi Wasit PSSI Priyanto, dan Anik Yuni Artika Sari.

“Dari keempat tersangka, penyidik masih terus melakukan pengembangan. Penyidik sudah mengajukan perpanjang­an penahanan mereka untuk 40 hari ke depan,” tambah Humas Satgas Kombes Raden Argo Yuwono.

Pekan depan, lanjut Suhardianto, satgas akan menetapkan satu tersangka baru.

“Identitasnya belum bisa diungkap sekarang. Tersangka baru ini merupakan pengembangan dari empat tersangka terdahulu.”

Lebih jauh, dia menyatakan tugas satgas ialah memberantas praktik tercela di Liga Indonesia sampai tuntas. Karena itu, satgas akan terus bekerja sampai tidak ada keluhan dan laporan masyarakat terkait praktik suap dan pengaturan hasil pertandingan.

“Kami juga tertarik untuk membentuk satgas bulu tangkis, bola basket, dan satgas lain sehingga penyelenggaraan semua bentuk olahraga di negara ini berjalan dengan baik,” ungkapnya saat berbicara dalam diskusi Sepak Mafia Bola di Menteng, Jakarta Pusat, kemarin.

Di kesempatan yang sama, Executive Committee PSSI, Gusti Randa, meng­akui pembongkaran praktik mafia bola menjadi momentum PSSI untuk lebih profesional. “Satgas bekerja di sisi pidana, kami di sisi disiplin. Kalau masih ada pengurus terlibat, pasti kami sikat.”

Terkait gerakan reformasi PSSI yang disuarakan Komite Perubahan Sepak Bola Nasional, dia menyilakan mereka melengserkan Edy Rahmayadi dari kursi ketua umum.

“Namun, jangan sampai membuat PSSI tandingan. Jangan lagi ada Indonesia Super League (ISL) dan Indonesia Premier League (IPL), seperti di masa lalu.”



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya