Saatnya PSSI Membuka Diri

Nurul Fadillah
26/12/2018 21:30
Saatnya PSSI Membuka Diri
(Antara)

KASUS pengaturan skor yang belakangan ini tengah mencoreng nama baik sepak bola Indonesia sejatinya bukanlah hal yang baru. Kasus yang menimpa PS Mojokerto Putera dan pemainnya seolah bagaikan fenomena gunung es yang masih menyimpan misteri tentang aktor-aktor yang belum terungkap.

Pengamat sepak bola Indonesia, Ferril Raymond Hattu menganggap jika PSSI tak ingin dicurigai terlibat sepatutnya mereka membuka kasus tersebut ke ranah hukum. Kepolisian Republik Indonesia telah berinisiatif terlibat dengan membentuk Satgas Anti-Mafia Bola sehingga PSSI seharusnya bisa memanfaatkan bantuan tersebut untuk memberantas para pelaku pengaturan skor tersebut.

"Sudah waktunya para pelaku ini dipidanakan. Sekarang kan sudah bagus artinya pemerintah sudah memfasilitasi, sekarang PSSI mau membuka diri atau tidak, ini loh sudah ada orang yang mau bantu yang punya kemampuan dan kompetensi yang baik secara teknik maupun hukum dalam hal ini kepolisian," ujar Ferril saat dihubungi Media Indonesia.

"Kalau sebenarnya kasus ini sudha berlaku berkepanjangan artinya mereka (PSSI) enggak bisa mengatasinya, sehingga seharusnya mereka bisa menerima bantuan ini. Kalau engga mau terima juga ada dua kemungkinan, mereka masih mampu atau mereka terlibat," lanjutnya.

Ferril juga menganggap hukuman yang diberikan oleh Komdis terhadap Manajemen PS Mojokerto Putera prematur. Mereka hanya dihukum larangan bertanding sepanjang 2019 tanpa adanya degradasi dari klub Liga 2.

"Padahal, seharusnya kalau tidak bertanding selama satu tahun itu otomatis terdegradasi. PSMP istilahnya hanya dibekukan satu tahun tanpa keluar duit tanpa belanja pemain dan sebagainya tapi dia tetap ada di Liga 2, sementara tim lain yang keluar duit banyak yang bermain dia bisa terdegradasi, dari situ saja logikanya sudah tidak masuk," tandas Ferril.

Tak hanya itu, Ferril juga mengritisi hukuman yang diberikan kepada pemain PSMP, Krisna Adi Darma. Akibat kasus pengaturan skor tersebut Krisna mendapat hukuman lebih berat berupa larangan beraktivitas dalam kegiatan sepak bola PSSI seumur hidup.

"Saya merasa aneg saja, pemain dihukum seumur hidup karena melakukan penalti yang tidak masuk sedangkan Anggota Exco PSSI yang jelas-jelas mengaku terlibat hanya dihukum 3 tahun dnegan denda Rp 150juta. Padahal, pemain berapa dapatnya, gajinya saja belum tentu dibayar lunas kan, dan dia juga engga mungkin jalan sendiri di dalam pasti ada yang nyuruh makanya itu yang harus diselidiki dan dipidanakan, pelatih, manajer atau siapapun yang terlibat karena ini masuknya sudah ," pungkasnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya