Gerilya para Mafia Bola di Indonesia

DW/AU/Sat/R-2
03/12/2018 02:30
Gerilya para Mafia Bola di Indonesia
(ANTARA/NYOMAN BUDHIANA)

RUMOR adanya pengaturan skor pada kompetisi di Tanah Air ternyata bukan isapan jempol. Para mafia sepak bola itu bahkan bukan hanya bergerilya di Liga 2, mereka juga mengincar kompetisi kasta tertinggi di Indonesia Liga 1.

Setidaknya hal itu diakui manajer klub Sriwijaya FC Ucok Hidayat. Menurut Ucok, ada beberapa pemainnya ditawari suap oleh orang tak dikenal. Namun, demi keamanan dan sportivitas, mereka menolak tawaran praktik pengaturan skor itu.

"Banyak pemain kami yang dapat SMS. Ada bekas pemain, ada fotonya, pemain saya sudah melapor. Ada rekamannya, ada tawarannya berapa," beber Ucok.

Tawaran itu, kata dia, sangat menggiurkan karena nilainya dua kali lipat daripada gaji bulanan pemain. "Rata-rata pemain ditawari Rp50 juta. Kami sudah lapor ke PSSI juga," kata Ucok.

Sementara itu, Kapten SFC Yu Hyun Koo mengaku dirinya pernah didekati komplotan mafia bola yang mengajak kompromi pengaturan skor pertandingan. "Mereka telepon-telepon saya terus, WA juga. Tapi, saya tidak mau karena saya tahu ini uang kotor."

Yu mengatakan dirinya tidak tahu persis kapan itu terjadi, tapi ia memastikan setelah laga Sriwijaya FC melawan Bhayangkara FC. Hingga kini, Yu tidak mengenal siapa pihak yang meneleponnya itu dan menawarkan uang senilai Rp400 juta.

"Saya tidak tahu, siapa mereka. Tapi, yang jelas saya ditawari uang Rp400 juta buat bagi teman-teman, terserah saya yang pilih. Bisa kiper, pemain belakang," kata dia.

Sementara itu, dari lanjutan Liga 1, posisi PS Tira berada di titik nadir setelah gagal memanfaatkan laga kandang terakhirnya. The Army kalah 0-1 dari tamunya Arema FC di Bantul, kemarin.

Kekalahan itu membuat PS Tira tergelincir ke posisi dasar klasemen dengan 36 poin.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya