Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TIM nasional Kroasia memang gagal membuat sejarah di Piala Dunia 2018 setelah takluk 2-4 dari Prancis di partai puncak. Namun, bagi bangsa Kroasia, mereka tidak gagal.
Sebaliknya, rakyat negara Balkan itu justru menganggap Luka Modric dan kolega telah membuat mereka bangga sebagai sebuah bangsa. Tidak mengherankan jika skuat Vatreni--julukan Kroasia--disambut bak pahlawan yang memenangi pertarungan di medan perang saat pulang kembali ke Zagreb, ibu kota Kroasia, kemarin.
Sekitar 500 ribu orang memadati jalan-jalan di Zagreb. Jumlah yang sangat besar mengingat populasi Kroasia hanya 4,2 juta penduduk. Artinya sepersepuluh penduduk Kroasia memadati Kota Zagreb untuk memberikan apresiasi kepada tim nasional. Bahkan tak sedikit pendukung yang berasal dari luar Zagreb menyempatkan hadir
Timnas Kroasia diarak bak juara meski hanya dikalungi me-dali perak, tanpa menenteng trofi Piala Dunia. Bagi mereka, Kroasia telah memenangi hati mereka. Tim asuhan Zlatko Dalic meraih prestasi tertinggi dalam sejarah sepak bola mereka dengan merebut posisi kedua di Piala Dunia 2018. Mereka memecahkan pencapaian dua dekade lalu yang finis di peringkat ketiga.
"Juara! Juara!", teriak para pendukung ketika timnas Kroasia keluar dari pesawat dan berjalan di karpet merah selama di Bandara Zagreb.
Timnas Kroasia tak pernah diprediksi bakal melangkah sejauh ini. Namun, tanda-tanda tim kejutan mulai terlihat jelas pada babak penyisihan grup. Mereka sukses memimpin klsemen Grup D dengan rekor sempurna. Salah satu yang cukup mengundang decak kagum ialah kemenangan telak 3-0 saat melawan finalis Piala Dunia 2014, Argentina.
Potensi kekuatan Kroasia semakin dipandang berbahaya setelah menyingkirkan Inggris di babak semifinal. Mereka menaklukkan pasukan 'Tiga Singa'--julukan Ing-gris--dengan skor 2-1 sekaligus menutup asa mereka mengulangi prestasi pada Piala Dunia 1966. Kala itu Inggris menjadi juara.
"Tidak ada kata yang dapat menggambarkan bagaimana kami rasakan saat ini," kata gelandang timnas Kroasia Ivan Rakitic merespons sambutan publik
Awalnya dicibir
Dari semua punggawa Kroasia, mungkin LukaModric yang paling beruntung karena merebut penghargaan Pemain Terbaik Piala Dunia 2018 dan membawa pulang Bola Emas dari Rusia.
Akan tetapi, pencapaian luar biasa Modric bukan tanpa tembok penghadang. Pemain 32 tahun itu sempat menjadi musuh publik di Kroasia karena kedekatannya dengan bos Dinamo Zagreb, Zdravko Mamic. Modric dinilai memberikan keterangan yang meringankan untuk Mamic dalam persidangan dugaan skandal korupsi. Bahkan Modric juga sempat disidik karena memberikan keterangan palsu.
Modric mengaku tidak dapat mengingat secara detail proses transfernya dari Zagreb ke Tottenham Hotspur pada 2008. Karena testimoninya, ia pun diancam hukuman lima tahun.
Mamic sendiri telah dijatuhi hukuman penjara. Namun, ia masih dalam pelarian di Bosnia dan belum jua kembali.
Kendati demikian, publik Kroasia tampaknya lupa dengan skandal tersebut. Modric tetap disambut bak pahlawan ketika pulang dari Rusia pada Senin (16/7) waktu setempat.
"Terima kasih masyarakat Kroasia! Terima kasih Zagreb! Kami telah mencapai mimpi kami," kata Modric saat berpidato di depan ratusan ribu pendukung timnas Kroasia. (AFP/R-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved