Elang Kartago Menanti Dewi Fortuna

Budi Ernanto
05/6/2018 00:00
Elang Kartago Menanti Dewi Fortuna
(ist)

TUNISIA bisa disebut sebagai salah satu tim kuat di Benua Afrika. Namun, itu terjadi di era 1990-an saat mereka masih memiliki gelandang elegan Sirajeddine Chihi dan striker Mehdi Ben Slimane. Saat ini negara di kawasan Afrika Utara itu sedang mencoba kembali menempatkan diri di jajaran atas sepak bola ‘Benua Hitam’. Putaran final Piala Dunia 2018 akan menjadi ajang tim berjuluk ‘Elang Kartago’ itu untuk unjuk kekuatan.

Tunisia terakhir kali tampil di Piala Dunia pada 2006 saat berlangsung di Jerman. Di dua edisi berikutnya, Tunisia absen karena tidak lolos kualifikasi. Lolos ke Rusia 2018 menjadi kali kelima Tunisia lolos ke putaran final. Namun, di empat penampilan sebelumnya, Tunisia tidak pernah lolos fase grup.

Di kesempatan kelima, Tunisia dipastikan tidak hanya ingin tampil dalam tiga laga alias tersingkir di penyisihan grup. Namun, untuk bisa setidaknya lolos ke fase gugur, tim besutan Nabil Maaloul harus berjuang ekstra keras. Dengan berada di Grup G, Tunisia bergabung dengan dua kekuatan Eropa, Belgia dan Inggris, serta kuda hitam zona CONCACAF, Panama.

Dengan adanya Belgia dan Inggris, Tunisia sudah pasti kesulitan bisa lolos babak penyisihan. Namun, bintang timnas Tunisia, Wahbi Khazri, menepis keraguan itu. "Pemain Tunisia selalu berpikir untuk bisa melangkah sejauh mungkin saat di Rusia. Kami selalu berlatih dengan giat setiap hari demi tampil maksimal di Piala Dunia," kata Khazri.

"Kami tahu memang bakal sulit, apalagi menghadapi Panama. Walau kami punya pemain yang berkualitas, tetap tidak boleh meremehkan siapa pun. Saya harap kami bisa membuat kejutan dan lolos ke babak kedua,” lanjut Khazri. Walau Khazri mengatakan Tunisia diisi banyak pemain berbakat, sebagian dari mereka tidak mengikuti babak kualifikasi sehingga jadi tugas Maaloul untuk bisa mempererat hubungan emosional setiap pemain.

Maaloul mengatakan tidak akan memaksakan pemain baru untuk menyesuaikan diri dengan formasi 4-3-3 yang kerap digunakan. Ia menuturkan terbuka kemungkinan mengubah formasi untuk menyesuaikan kemampuan pemain.
"Strategi yang sama seperti ketika kami mengalahkan Kosta Rika dalam laga persahabatan. Kami punya bek berkualitas seperti Syam Ben Youssef, Yassine Meriah, Yohan Belaouane, dan Dylan Bronn,” kata dia.

Tanpa pemain bintang
Karena tidak memiliki pemain bintang, Tunisia akan mengandalkan kekompakan sebagai tim. Permainan tim yang solid diyakini bisa menjadi kekuatan yang lebih besar jika dibandingkan dengan hanya mengandalkan kebintangan beberapa pemain.
"Kekuatan kami sebenarnya ada di persiapan dan sebagai tim, bukan hanya per individu. Tujuan utama kami melewati babak pertama. Setelah itu, kami bisa kembali mulai bermimpi," ujar Khazri.

Walau menggantungkan harapan setinggi langit, Tunisia sepertinya tetap harus mengakui dengan realitas yang ada. Inggris dan Belgia tetap menjadi favorit untuk menjadi dua wakil Grup G ke babak 16 besar. Namun, jika dewi fortuna sedang berpihak, bukan tidak mungkin satu tiket ke babak 16 besar dari Grup G menjadi milik ‘Elang Kartago’. (FIFA/Chronicle/R-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya