Kuda Hitam dari Pegunungan Alpen

Nurul Fadillah
25/5/2018 00:30
Kuda Hitam dari Pegunungan Alpen
(AFP PHOTO / Fabrice COFFRINI)

BISA disebut sebuah kejutan Swiss kini menempati peringkat keenam dunia. Dalam daftar peringkat FIFA, Swiss hanya kalah dari Jerman yang berada di posisi puncak, Brasil (2), Belgia (3), Portugal (4), serta Argentina (5).

Prancis, juara dunia 1998, dan Spanyol (2010) bahkan tidak mampu unggul atas Swiss. Prancis berada di posisi ketujuh, sedangkan Spanyol di posisi kedelapan.

Berdasar peringkat tersebut, Swiss memang pantas disebut sebagai salah satu favorit di Rusia 2018. Namun, jika dilihat dari prestasi tim berjuluk La Nati sepanjang sejarah, predikat kuda hitam lebih cocok disematkan kepada tim besutan Vladimir Petkovic tersebut.

Negara yang terletak di Pegunungan Alpen tersebut memang pernah tiga kali menembus perempat final Piala Dunia, yaitu pada 1934, 1938, dan 1954. Namun, hal itu tidak bisa dijadikan sebagai patokan.

Setelah menjadi tuan rumah pada 1954, prestasi terbaik Swiss hanya mampu lolos dari babak penyisihan grup. Bahkan, sejak 1970 hingga 1990, Swiss seperti tertidur dengan tidak lolos ke putaran final.

Namun, harapan rakyat Swiss untuk melihat para bintang mereka meraih kesuksesan di kancah sepak bola dunia kini membesar. Hasil di Euro 2016 menjadi dasar pertama.

Dua tahun silam di Prancis, hanya ketidakberuntungan yang membuat langkah Xherdan Shaqiri harus terhenti di babak 16 besar. Dengan menjadi runner-up Grup A di bawah Prancis, Swiss tersingkir setelah kalah 4-5 melalui adu penalti dari Polandia di babak 16 besar.

Dasar kedua ialah hasil kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Eropa. Swiss memang lolos ke Rusia 2018 melalui babak play-off dengan menyingkirkan Irlandia Utara setelah hanya menjadi runner-up Grup B di bawah Portugal.

Namun, poin yang diraih Swiss dalam 10 laga babak kualifikasi, yaitu 27, melebihi poin juara di grup lain. Sebut saja Prancis yang menjadi juara Grup A dengan raihan 23 poin, Serbia (Grup D, 21 poin), Polandia (Grup E, 25 poin), bahkan Inggris yang menjadi juara Grup F dengan 26 poin.

Paduan pemain senior, seperti Shaqiri, Granit Xhaka, serta Valon Behrami, dengan pemain-pemain muda, semisal Breel Embolo serta Edimilson Fernandes, merupakan modal terbesar Swiss di Rusia 2018. Skuat yang tidak terlalu banyak berubah saat tampil di Euro 2016 juga menjadi keuntungan tersendiri.

Di lini depan, Haris Seferovic dapat menjadi mesin pencetak skor pascamencetak 11 gol dalam 47 penampilan. Di sektor tengah, Swiss memiliki trio Behrami, Xhaka, serta Shaqiri yang akan kembali menjadi tumpuan utama.

"Kami akan berada satu tim lagi di Piala Dunia. Kami memiliki mental yang sama dan akan melakukan yang terbaik untuk mengembangkan gaya permainan dan menunjukkan hasrat di lapangan," jelas Behrami.

Penentu di laga kedua
Berada di Grup E bersama Brasil, Kosta Rika, dan Serbia, Swiss disebut tidak akan sulit lolos ke fase gugur mendampingi tim favorit, Brasil. Di laga pertama, Swiss harus menghadapi Brasil pada 17 Juni. Jikapun Swiss gagal meraih poin atas Brasil, peluang mereka untuk lolos masih terbuka lebar.

Adalah laga kedua melawan Serbia yang akan menjadi penentu. Jika mereka mampu menang atas Serbia, peluang lolos terbuka sangat lebar karena di laga terakhir, Swiss yang akan menghadapi Kosta Rika di atas kertas akan mampu meraih kemenangan.

Namun, Petkovic sama sekali tidak mau meremehkan Kosta Rika. "Brasil bukan satu-satunya lawan dalam grup karena lawan yang lainnya juga akan sulit. Kami harus bersiap menghadapi Kosta Rika, lawan yang sulit. Serbia selalu memiliki individu yang sangat baik dan kali ini mereka telah membentuk tim yang sangat baik," ujar Petkovic.

(Berbagaisumber/R-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya