Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
EMPAT tahun lalu, tepatnya 8 Juli 2014, menjadi hari terburuk bagi persepakbolaan Brasil. Di Estadio Mineirao, Belo Horizonte, Selecao secara mengejutkan kalah 1-7 dari Jerman di semifinal Piala Dunia 2014. Itu merupakan kekalahan terbesar yang didapat timnas Brasil sepanjang sejarah.
Kekalahan itu menjadi tamparan keras bagi Brasil, negara paling sukses di ajang Piala Dunia. Tidak pernah absen sejak Piala Dunia pertama digelar pada 1930, Brasil merupakan negara yang paling banyak menjadi juara dengan lima kali mengangkat trofi juara pada 1958, 1962, 1970, 1994, dan 2002.
Brasil menjadi juga menjadi negara terbaik di ajang sepak bola terbesar sejagat. Sejak 1930, Brasil telah tampil dalam 104 laga Piala Dunia dengan meraih 70 kemenangan, 17 hasil imbang, dan 17 kekalahan. Segudang prestasi yang dimiliki membuat Brasil selalu menjadi favorit di Piala Dunia, termasuk di Rusia 2018. Tragedi di Belo Horizonte empat tahun silam sama sekali tidak membuat orang meremehkan Brasil.
Setelah kekalahan memalukan dari Jerman yang akhirnya menjadi juara Piala Dunia 2014, Brasil mampu bangkit. Kehadiran Tite yang menggantikan Carlos Dunga sebagai pelatih sejak Juni 2016 mendatangkan semangat baru di tim ‘Samba’. Di tangan Tite, Brasil kembali menemukan jati dirinya sebagai tim dengan filosofi bermain menyerang. Dari 19 laga bersama Brasil, pelatih bernama lengkap Adenor Leonardo Bacchi tersebut meraih 15 kemenangan dan hanya 1 kekalahan.
Bahkan, di sembilan penampilan terakhir di semua kompetisi, Brasil tidak terkalahkan, termasuk saat menundukkan Jerman 1-0 dan Rusia 3-0 pada pertandingan persahabatan, Maret lalu. "Saya pikir Brasil sudah benar-benar siap untuk menghadapi Piala Dunia 2018. Kami memiliki beberapa peluang dan kami pun mencetak gol," ujar Tite.
"Para pemain berhasil mencapai target yang saya berikan. Itu berarti mereka mengerti apa yang saya ingin lihat dari mereka," tambahnya.
Kolektivitas tim
Di Rusia 2018, Brasil diprediksi tidak menemui hambatan untuk lolos ke fase gugur. Berada di Grup E, Brasil sepertinya akan sulit dibendung Swiss, Kosta Rika, dan Serbia. Dari ketiga pesaing, hanya Swiss yang dinilai memiliki kemampuan untuk bisa mengimbangi permainan Brasil. Hanya nasib sial yang akan membuat Brasil tidak lolos sebagai juara grup.
Dari sederet pemain bintang yang dimiliki, Neymar menjadi sosok sentral di timnas Brasil. Namun, Tite tidak ingin membebankan tanggung jawab sepenuhnya kepada bintang Paris St-Germain tersebut. Tite memahami benar sepak bola ialah permainan tim. Hanya mengandalkan kebintangan segelintir pemain bisa mendatangkan petaka.
Hal itulah yang terjadi saat Brasil dipermalukan Jerman 1-7 di semifinal Piala Dunia 2014. Saat itu Brasil yang tidak diperkuat Neymar yang cedera seperti kehilangan pegangan dan tidak tahu harus berbuat apa menghadapi tim sekelas Jerman. "Neymar memang sosok yang tidak tergantikan dalam tim. Namun, semua pemain harus memikul tanggung jawab untuk menjadi sebuah tim yang kuat. Saya tidak bisa menaruh beban kepada satu atau dua pemain," ungkap Tite.
Mengesampingkan kebergantungan kepada pemain bintang dan mengutamakan kolektivitas sebuah tim merupakan kekuatan sesungguhnya yang dimiliki Brasil. Di tangan Tite, Brasil mampu memaksimalkan kekuatan utama tersebut. (Berbagaisumber/R-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved