Menanti Dentuman Tim Dinamit

Satria Sakti Utama
19/5/2018 00:20
Menanti Dentuman Tim Dinamit
(AFP PHOTO / Geoff CADDICK)

PENAMPILAN yang paling diingat dari tim nasional Denmark ialah saat Piala Dunia 1998. Danish Dynamite, julukan timnas Denmark, kala itu membuat kejutan besar hingga mampu menembus babak perempat final. Langkah Denmark dihentikan Brasil yang akhirnya menjadi finalis dalam ajang tersebut.

Peter Schmeichel serta Laudrup bersaudara, Michael dan Brian, menjadi bintang bagi Denmark sepanjang pergelaran. Akan tetapi, dentuman tim dinamit mulai luntur setelah itu.  Puncaknya kegagalan besar di Piala Dunia 2010 setelah gagal lolos dari babak penyisihan grup. Empat tahun berselang mereka pun gagal lolos putaran final Piala Dunia 2014 di Brasil.

Setelah pergantian pelatih dari tangan Morten Olsen ke Age Hareide pada 2015, hulu ledak Denmark kembali terisi. Denmark menunjukkan performa impresif dengan mencatatkan rekor tidak terkalahkan dalam 13 pertandingan resmi terakhir. Delapan di antaranya berakhir dengan kemenangan. Catatan tersebut menjadi modal yang pas sebelum Christian Eriksen dan kawan-kawan terbang ke Rusia.

Modal lain berupa skuat mumpuni yang dimiliki Denmark. Meski tidak sekomplet Prancis yang merupakan salah satu kompetitor di Grup C, tim asal Skandinavia ini dihuni pemain-pemain hebat. Sebut saja kiper Leicester City Kasper Schmeichel serta gelandang eksplosif Christian Eriksen.

Nama terakhir menjadi pemain yang paling diandalkan karena telah mencetak 12 gol dan 9 assist selama babak kualifikasi Piala Dunia zona Eropa. Eriksen mencetak trigol ke gawang Republik Irlandia di babak play-off kualifikasi zona Eropa yang memastikan tim ‘Dinamit’ meraih tiket ke Rusia.

"Saat saya melihat permainan Real Madrid atau Barcelona, tidak ada satu pun dari mereka yang lebih baik daripada Christian (Eriksen). Christian (Eriksen) tipe pemain yang bisa tampil lebih baik ketika harus bermain melawan pemain yang dinilai lebih baik daripada dia," puji Hareide.

Persaingan ketat
Hareide menyebut Grup C yang diisi Denmark bersama Prancis, Peru, dan Australia merupakan grup yang akan penuh intrik. Pelatih asal Norwegia itu menilai persaingan ketat bakal terjadi. Terlebih hanya kekuatan Prancis yang benar-benar mampu diidentifikasi saat ini.

"Ini grup menarik dengan Peru dari Amerika Selatan dan Australia yang jauh dari kami dan tidak familier. Sangat menarik pula ketika harus melawan tim yang tidak sering Anda lawan. Kami harus mempelajari mereka lebih dahulu," tutur Hareide.

Denmark tampaknya mempelajari betul gaya permainan Amerika Latin untuk mengantisipasi perlawanan Peru. Los Incas, julukan timnas Peru, akan menjadi lawan pertama di penyisihan Grup C. Denmark pun banyak melakukan uji coba dengan tim-tim yang memiliki kesamaan gaya bermain seperti Peru, yakni Cile dan Meksiko.

Di sisi lain, gelandang Denmark Thomas Delaney mengaku optimistis timnya kembali mengulang atau malah melebihi pencapaian Piala Dunia 1998. Pesepak bola 27 tahun itu enggan negaranya hanya menjadi pelengkap dengan pulang setelah hanya bermain tiga pertandingan di Rusia.

"Kami sangat optimistis menghadapi fase grup. Posisi kedua di grup ini akan menjadi tujuan, tapi tentu kami tidak menutup kemungkinan untuk mengejutkan Prancis. Saya tidak ingin pulang setelah hanya bermain tiga pertandingan saja," tutur pemain Werder Bremen ini. (FIFA/R-1)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya