Atletico Lanjutkan Dominasi Spanyol

Satria Sakti Utama
18/5/2018 02:15
Atletico Lanjutkan Dominasi Spanyol
( AFP PHOTO / Boris HORVAT)

KESUKSESAN Atletico Madrid menjuarai Liga Europa 2018 semakin mengukuhkan dominasi Spanyol pada kompetisi kasta kedua di Eropa tersebut. Betapa tidak? Sejak format Liga Europa dipergunakan mulai musim 2009/2010, dua klub Spanyol, Sevilla dan Atletico, bergantian menguasai trofi tersebut. Sevilla tercatat menjadi kampiun pada 2014, 2015, dan 2016.

Sebelumnya mereka menjadi juara pada 2006 dan 2007. Sementara itu, Los Rojiblancos menjadi kampiun pada 2010, 2012, dan 2018.

Tim besutan Diego Simeone itu menjadi juara setelah menang 3-0 atas Olympique Marseille pada partai puncak yang berlangsung di Groupama Stadium, kemarin dini hari WIB. Dua dari tiga gol Los Rojiblancos dicetak Antonio Griezmann di menit ke-21 dan ke-49, sedangkan satu gol lagi dibuat Gabi (89').

Simeone pun mengatakan gelar itu bukan sekadar trofi. Apalagi, dia tidak bisa membantu tim di pinggir lapangan karena terkena sanksi dan harus menonton dari tribune. "Saya pikir Liga Europa bukan sekadar trofi setelah kami melewati musim yang penuh tantangan. Ini buah perjuangan dan kerja kami," cetus arsitek asal Argentina itu.

Selain Simeone, punggawa Atletico yang paling senang dengan kesuksesan tersebut mungkin striker Fernando Torres karena ia sukses menutup kariernya di Atletico dengan manis.

Eks penyerang Liverpool itu akhirnya bisa mempersembahkan trofi untuk Atletico setelah 11 tahun mengusung panji kebesaran klub dalam dua episode masa bakti. Ironisnya gelar itu sekaligus juga menjadi trofi terakhir yang ia persembahkan lantaran para akhir musim ini ia memutuskan hengkang.

"Menjadi juara bersama Atletico ialah mimpi yang saya miliki sejak kecil dan itu telah menjadi kenyataan. Menjadi bagian dari tim ini luar biasa. Ini hanyalah awal dari sesuatu yang sangat besar. Bagi saya ini akhir yang fantastis. Saya akan selalu berterima kasih kepada tim ini," kata Torres yang meniti karier profesionalnya di Atletico sejak 2000.

"Untuk Fernando, ini mimpi yang menjadi kenyataan. Saya berharap kerumunan membanjiri stadion pada pertandingan selanjutnya. Dia anak yang fantastis. Apa pun penghargaan yang diraih pantas didapatkannya," kata Simeone.

"Kejuaraan ini memberikan banyak hal. Namun, Torres lebih pantas merasakan lebih jika dibandingkan dengan yang lainnya. Tidak ada jalan yang lebih baik ketimbang hal ini untuk mengucapkan selamat tinggal," timpal Gabi.

Kena karma
Gelandang Marseille Dimitri Payet harus mengakhiri pertandingan lebih awal akibat cedera saat melawan Atletico. Eks pemain West Ham United itu hanya bermain selama 31 menit sebelum ditarik keluar. Lebih mengenaskan lagi Payet harus melihat timnya menelan kekalahan.

Banyak pihak menyebut hal ini sebagai karma untuk Payet. Gelandang 31 tahun ini melakukan kontak fisik, seperti hal yang membuat Cristiano Ronaldo mengalami cedera kala pertandingan puncak Piala Eropa 2016 lalu. Payet keluar lapangan sembari menangis, seperti halnya yang dirasakan Ronaldo dua tahun lalu.

Menghilangnya kontribusi Payet membuat lini tengah Marseille kehilangan sentuhan. Setidaknya itulah alasan yang dikemukakan pelatih Les Phoceens, Rudi Garcia, ketika melihat tim asuhannya dibantai Atletico.

Garcia tidak menampik mengambil keputusan berisiko saat menurunkan Payet sejak awal. "Saya memilih untuk memulai dengan Dimitri (Payet), salah satu pemain terbaik kami. Kami mencoba memanfaatkan tendangan bebasnya untuk mencari keuntungan." (AFP/Skysport/R-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya