Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
FINAL Liga Europa 2017-2018 di Stadion Parc Olympique, Lyon, Prancis, dini hari nanti, akan mempertemukan dua tim yang kerap tidak berjodoh dengan kemenangan di laga puncak. Marseille dan Atletico Madrid kerap kurang beruntung jika tampil di laga pamungkas kompetisi antarklub Eropa.
Dalam lima kesempatan tampil di final, Marseille hanya meraih dua kemenangan yaitu di Liga Champions (dulu Piala Champions) musim kompetisi 1992-1993 dan Piala Intertoto 2005. Sebaliknya Atletico Madrid sukses meraih lima kemenangan dalam 11 penampilan di laga puncak yaitu di Piala Winners (1961–62), Liga Europa (2009–2010, 2011–2012) dan Piala Super Eropa (2010, 2012).
Kondisi itulah yang membuat kedua tim memiliki tekad kuat menjadi pemenang di akhir laga. Terlebih, inilah kesempatan terakhir baik bagi Marseille maupun Atletico Madrid untuk mengisi rak trofi juara mereka musim ini.
Jika dibandingkan dengan Atletico Madrid, peluang Marseille untuk kembali menjadi yang terbaik di Eropa, walau kali ini hanya untuk kompetisi kasta kedua, lebih besar. Pasalnya, Marseille bak bermain di kandang. Jarak Marseille ke Lyon yang bisa ditempuh dengan berkendara selama 3 jam membuat pendukung klub itu akan mendominasi stadion.
Selain itu, kesuksesan melewati hadangan Leipzig dan Salzburg di dua babak sebelumnya membuat optimisme publik Marseille memuncak. Les Phoceens, julukan Marseille, yang dibesut pelatih Rudi Garcia memperlihatkan bahwa mereka memiliki kualitas yang mumpuni untuk mengangkat trofi juara.
“Kami memenangi Liga Champions pada 1993 dan tidak ada orang lain yang melakukannya sejak saat itu. Kami tahu betapa sulitnya untuk mengulang itu, tapi hal itu pula yang memotivasi kami. Jika juara juara, kami akan ditulis di buku sejarah,” ungkap gelandang Marseille, Dimitri Payet.
Pekerjaan besar Marseille di laga final kali ini ialah membongkar pertahanan Atletico Madrid. Sejak ditangani Diego Simeone, Los Rojiblancos, julukan Atletico Madrid, dikenal dengan seni bertahan yang jempolan.
“Mereka merupakan klub besar, tim super dengan pemain hebat dan pelatih hebat pula. Mereka terbiasa bermain di level ter-tinggi. Mereka jelas favorit, tapi kami akan melakukan apa pun untuk menciptakan kejutan,” tutur pemain sayap Marseille, Florian Thauvin.
Terakhir bagi Griezmann
Di kubu Atletico Madrid, ke-inginan mengakhiri puasa gelar di pentas Eropa selama enam tahun ingin mereka sudahi. Setelah mengangkat trofi Liga Europa 2012, Los Rijiblancos tidak pernah lagi merasakan nikmatnya menjadi juara.
Dua kali tampil di final Liga Champions pada musim 2013-2014 dan 2015-2016 selalu berakhir dengan kekalahan bagi Atletico Madrid. Karena itu, final Liga Europa musim ini menjadi momentum untuk membidik gelar juara kembali.
“Banyak hal berubah di Atletico. Semua yang telah kami alami dalam beberapa tahun terakhir akan diingat. Saya harap kami mendapatkan medali lainnya,” kata bek sayap Atletico Madrid, Juanfran. Gelar juara tersebut mungkin akan menjadi yang pertama dan terakhir untuk striker Atletico Madrid, Antoine Griezmann. Pemain asal Prancis itu diisukan akan mencari klub baru pada musim depan. (AFP/R-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved