Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PRANCIS didapuk sebagai salah satu tim unggulan pada ajang Piala Dunia 2018. Alasannya sudah barang tentu karena skuat komplet dan merata di segala posisi. Sumber daya pemain berkualitas berpaspor Prancis pun sangatlah melimpah.
Pelatih Didier Deschamps pun tidak perlu khawatir jika harus kehilangan satu atau dua pemain kuncinya di Rusia pada Juni mendatang. Semisal absennya bek tengah Laurent Koscielny karena cedera.
Posisi yang ditinggalkan bek 32 tahun itu dapat ditutup sempurna oleh kehadiran bek Barcelona, Samuel Umtiti, atau palang pintu Manchester City Aymeric Laporte. Salah satu di antaranya akan menjadi pendamping Raphael Varane di jantung pertahanan Prancis.
Lini tengah merupakan sektor yang paling kuat dalam skuat Les Bleus saat ini. Nama Paul Pogba dan N'Golo Kante menjadi aktor yang paling diandalkan meski beberapa nama gelandang berkualitas lain mengekor seperti Thomas Lemar atau Blaise Matuidi.
Barisan depan Prancis juga diisi deretan penyerang kelas satu. Bomber Atletico Madrid Antoine Griezmann, penyerang muda Kylian Mbappe, dan striker Chelsea Oliver Giroud sering kali menjadi pilihan utama Deschamps. Namun, di luar itu masih ada nama penyerang Aleksandre Lacazette yang dapat menjadi pertimbangan.
Komposisi tim yang lengkap membuat kans mengulangi catatan juara dua dekade lalu dapat terulang. Setidaknya itu yang diharapkan Aime Jacquet, pelatih timnas Prancis saat menjuarai Piala Dunia 1998.
"Sejujurnya saya sangat kalem dan percaya diri. Kami punya banyak pemain bagus. Bagian tersulitnya ialah memilih yang baik dalam waktu yang tepat untuk mengembangkan juara dunia seperti 1998 lalu," jelas Jacquet.
Prancis merupakan unggulan Grup C pada putaran final Piala Dunia 2018. Prancis diprediksi akan mudah meraup poin penuh dari tim lain di grup yang sama, yakni Denmark, Australia, dan Peru. Pemimpin klasemen menjadi target awal agar mempermudah jalan di babak gugur.
Kolektivitas tim
Kekalahan atas Kolombia dengan skor 2-3 dalam uji coba di Stade de France akhir Maret lalu masih membuktikan bahwa dari sisi kolektivitas, timnas Prancis masih belum sempurna. Masih terlihat penurunan kualitas permainan, khususnya di babak kedua. Hal itu dimanfaatkan Kolombia dengan mencetak dua gol setelah turun minum sekaligus membalikkan ketertinggalan.
"Kami perlu memiliki insting membunuh. Kami harus memperbaiki hal ini karena waktu kami tidak banyak sebelum putaran final Piala Dunia. Kami masih sering kali kehilangan interaksi dan memberikan ruang terlalu banyak bagi lawan," ujar Blaise Matuidi.
Kekalahan itu seperti 'petir di siang bolong' bagi Deschamps. Namun, hal positifnya ia mampu melihat kelemahan tim.
Tugas pelatih 49 tahun itu ialah mencari solusi untuk mengantisipasi lawan yang memiliki karakteristik permainan tim-tim Amerika Latin. Di Grup C, terdapat Peru yang memiliki tipe permainan layaknya Kolombia. (FIFA/ESPN/R-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved