Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TIM nasional Maroko akan sangat bergantung pada kehadiran bek Medhi Benatia pada putaran final Piala Dunia 2018 Rusia. Benatia merupakan kapten tim sekaligus komandan di jantung pertahanan tim berjuluk 'Singa Atlas' tersebut.
Pesepak bola 31 tahun itu merupakan pemain dengan jam terbang tertinggi dalam tim. Ia bek inti klub raksasa Italia, Juventus, dan pernah mencicipi bermain untuk klub besar lain Eropa, seperti AS Roma dan Bayern Muenchen.
"Medhi (Benatia) merupakan kapten, pemimpin, pemain yang sangat berpengalaman, dan mampu menyebarkan pesan. Ia seperti pelatih di atas lapangan," puji pelatih timnas Maroko Herve Renard.
Akan tetapi, Benatia menunjukkan diri bukan pemimpin yang berego besar. Ia menolak memperkuat timnas sampai ia bermain reguler di Juventus pada Maret 2017. Benatia memilih absen saat pertandingan persahabatan melawan Burkina Faso dan Tunisia pada 24 dan 28 Maret 2017.
"Saya pikir ini tidak adil untuk datang dan bermain untuk tim nasional ketika saya kurang mendapatkan pertandingan kompetitif dan mengambil tempat seseorang yang lebih pantas," kata Benatia.
Benatia lahir di Courcouronnes, Prancis, dengan ayah berdarah Maroko dan ibunya yang merupakan warga negara Aljazair. Tidak ayal kariernya kental suasana kompetisi sepak bola Eropa. Marseille menjadi tim pertama profesional pertama Benatia meski ia tidak pernah mendapatkan tempat utama.
Petualangannya berlanjut ke Italia dengan bergabung bersama Udinese pada 2010. Sepak bola di 'Negeri Piza' tampaknya sangat cocok dengan gaya bermain Benatia. Kariernya mulai menanjak dalam tiga musim di Udinese dan membuat AS Roma kepincut.
Akan tetapi, di ibu kota Italia tersebut Benatia hanya bertahan selama semusim. Bayern Muenchen kemudian menebusnya pada 2014. Namun, performanya di Muenchen tidak secemerlang seperti saat ia di Italia. Ia hanya bermain selama 29 kali sebelum dipinjamkan ke Juventus.
Bersama 'si Nyonya Tua', Benatia kembali mendapatkan kepercayaan diri kembali. Ia sering kali menjadi pilihan utama pelatih Massimiliano Allegri untuk berduet dengan Giorginio Chiellini di lini belakang ketika fit.
Kariernya sedikit ternoda pada babak perempat final Liga Champions Eropa musim ini. Benatia menjadi penyebab utama kegagalan Juventus menaklukkan Real Madrid setelah melakukan pelanggaran ringan terhadap Lucas Vazquez di menit-menit akhir pertandingan pada leg kedua. Penalti Cristiano Ronaldo pun membuyarkan harapan Juventus dan akhirnya mereka menyerah dengan skor 3-4.
"Anda tidak dapat menerima wasit yang memberikan penalti pada menit ke-93 karena seharusnya pertandingan itu berakhir di babak tambahan. Saya bangga dengan tim saya, tapi saya merasa muak dengan sepak bola," tuturnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved