Berharap Tuah Piala Dunia 1986

Satria Sakti Utama
13/5/2018 23:30
Berharap Tuah Piala Dunia 1986
(AFP)

PENANTIAN panjang Maroko untuk kembali mencicipi putaran final Piala Dunia berakhir sudah. Setelah 20 tahun absen, skuat 'Singa Atlas', julukan Maroko, kini bisa kembali menunjukkan kekuatan di Piala Dunia. Wakil Afrika tersebut terakhir beraksi pada Piala Dunia 1998 yang bertempat di Prancis.

Skuat Herve Renard akan memulai perjalanan di Rusia 2018 dengan tergabung di Grup B, bersaing dengan duo raksasa Eropa, Portugal dan Spanyol, serta wakil Asia, Iran.

Terkhusus melawan Portugal, Maroko memiliki memori yang teramat manis di masa lalu. Maroko tercatat pernah menaklukkan skuat 'Selecao das Quinas', julukan Portugal, pada babak penyisihan Grup F Piala Dunia 1986 Meksiko. Tim yang kala itu ditangani pelatih asal Brasil Jose Faria menang dengan skor meyakinkan 3-1 berkat dwigol Abdurrazak Khairi dan Abdelkrim Merry Krimau di babak kedua.

Tidak hanya meraih hasil positif dari Portugal, Maroko juga sukses memimpin klasemen Grup F. Namun, perjalanan Maroko pada fase gugur langsung terhenti di babak awal seusai takluk dari Jerman Barat dengan skor tipis 0-1 pada fase 16 besar.

Aksi di Meksiko menjadi pencapaian terbaik Maroko sejauh ini. Sebabnya, pada dua kali keikutsertaan setelah Meksiko 1986, yaitu Piala Dunia 1994 dan 1998, perjalanan Maroko langsung berakhir di babak penyisihan grup.

Realitas hari ini tentu tidak dapat menjadi acuan bagi Maroko. Portugal datang ke Rusia dengan label raja 'Benua Biru' setelah menjuarai Euro 2016. Secara matematika, Portugal pun jauh lebih unggul saat ini. Akan tetapi, harapan harus terus diapungkan.

Maroko akan bersaing dengan Iran untuk memulai kampanye mereka di Rusia dengan positif pada 15 Juni. Kemenangan akan memberikan harapan untuk dapat lolos ke babak selanjutnya. Sementara itu, hasil imbang atau bahkan kalah memiliki arti harapan mereka akan pupus. Alasannya, Portugal dan Spanyol yang akan menjadi lawan selanjutnya menjadi raksasa yang sangat sulit untuk diimbangi.

"Pertandingan pertama (melawan Iran) akan menjadi final kami. Itu pertandingan sulit karena kami melihat Iran di babak kualifikasi dan mereka tim yang bagus. Namun, jika kami menang, kami punya harapan ke babak selanjutnya," kata asisten pelatih, Mustapha Hadji.

 

Generasi emas

Maroko memiliki kepercayaan diri tinggi untuk menghadapi Piala Dunia 2018. Skuat Maroko saat ini dilabeli generasi emas sejak Piala Dunia 1998 di Prancis.

Skuat 'Singa Atlas' saat ini diisi pemain-pemain yang lahir dan ditempa sepak bola Eropa. Sebut saja bek Juventus Medhi Benatia atau gelandang serang andalan Hakim Ziyech yang memperkuat Ajax Amsterdam.

"Para pemain Maroko saat ini punya kesempatan untuk memiliki sejarah. Mereka memang bisa bermain di Liga Champions, tapi membela negara di ajang Piala Dunia terasa lebih spesial. Ini kesempatan yang tidak bisa dimiliki banyak pemain," imbuh Hadji.

Khusus Ziyech, kariernya di timnas Maroko sempat mengalami tarik ulur karena sebelumnya telah beraksi untuk skuat muda timnas Belanda. Ia akhirnya membulatkan tekad untuk membela negara leluhurnya pada 2015. Namun, keputusan tersebut banyak dicibir. Salah satunya datang dari legenda timnas Belanda, Marco van Basten.

Pada akhirnya pilihan Ziyech tepat. Ia sukses membawa Maroko lolos ke Piala Dunia 2018 dan nasib sebaliknya diterima Belanda, gagal ke Rusia 2018.   (FIFA/AFP/R-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya