Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
NAMA Oscar Washington Tabarez Silva mungkin tidak secemerlang Josep Guardiola atau Jose Mourinho yang selalu kebanjiran trofi setiap tahun. Akan tetapi, Tabarez merupakan sosok istimewa, tidak hanya di dalam lapangan sebagai pelatih, tetapi juga kehidupan di luar lapangan.
Pelatih kelahiran Montevideo, Uruguay, itu sangat dihormati di negara asalnya. Ia dijuluki el Maestro atau ‘sang Guru’. Julukan itu diberikan bukan tanpa alasan karena Tabarez sejatinya memang pengajar lantaran pernah menjadi guru sekolah dasar di kawasan miskin Kota Montevideo.
Bahkan, ia berperan aktif memerangi buta huruf. Ia juga memberikan edukasi kepada penderita tunanetra. Akibat kerja kerasnya, Tabarez pernah mendapatkan penghargaan dari badan PBB, UNESCO. Sekali lagi, Tabarez bukanlah sosok yang mempunyai koleksi trofi melimpah, tapi gelar yang diraihnya selalu berkesan.
Tabarez mempersembahkan medali emas pertama sepanjang sejarah bagi tim sepak bola Uruguay saat menjuarai PAN American Games 1983 dengan skuat U-20. Empat tahun berselang ia mempersembahkan gelar prestisius Copa Libertadores bagi Penarol.
Tabarez sempat hijrah ke negara tetangga, Argentina, untuk menakhodai Boca Junior pada 1991. Satu tahun kemudian, ia dan klub asuhannya itu mengangkat trofi di kompetisi domestik Argentina.
Gelar itu terasa berkesan bagi Tabarez. "Saya merasa timbal balik yang positif dari fan Boca setelah 11 tahun tidak meraih gelar kompetisi domestik," tuturnya. Setelah itu, karier kepelatihan Tabarez tenggelam saat ia menjajal kerasnya persaingan sepak bola Eropa. Ia menukangi AC Milan dan Cagliari. Ia pun sempat memilih berhenti dari dunia kepelatihan pada 2002.
"Saya mencoba untuk tidak menjadi orang yang terlalu obsesi. Saya menghargai mereka yang melakukannya, tapi saya lebih suka menjadi orang yang memberikan pengaruh kemudian beristirahat sejenak," kata Tabarez. Pada 2006 Tabarez secara resmi menukangi Uruguay untuk kedua kalinya setelah periode 1988-1990. Sejak kedatangannya, Uruguay kembali menjadi tim elite dan jadi kandidat juara di setiap kompetisi. Setelah empat dekade, La Celeste, julukan Uruguay, tidak pernah absen dalam tiga edisi Piala Dunia terakhir. Evolusi Uruguay berasal dari pemikiran Tabarez. Ia tidak hanya guru, tetapi juga pemikir ulung. (Guardian/Sat/R-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved