Politisasi Agama Sudah Terlalu Melebar

Nuriman Jayabuana
15/3/2017 18:59
Politisasi Agama Sudah Terlalu Melebar
(MI/Susanto)

SENTIMEN keagamaan sudah terlalu jauh dibawa ke ranah politik. PBNU menganggap penggunaan isu keagamaan pada pilkada DKI sudah terlampau tidak sehat.

"Bahkan terpasang spanduk larangan menyalatkan jenazah pemilih Ahok. Itu sudah gila, politisasi agama sudah overdosis," ujar Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan SDM PBNU Rumadi Ahmad di Jakarta, Rabu (15/3).

Rumadi menyayangkan banyak pihak yang menjadikan rumah ibadah sebagai battleground pertarungan politik. "Saya cuma mau mengingatkan, tolonglah cara-cara yang keterlaluan begini direm. Jangan malah gelap mata mainkan isu keagamaan."

Ia menyadari Ahok memang hanya berpeluang dijatuhkan dengan isu keagamaan. Makanya, kubu lawan memanfaatkan politisasi agama sebagai senjata andalan.

"Tapi saya setuju dengan pernyataan Pak Said Aqil Siradj. Sudahlah, siapa pun kalau berkampanye ga usah bawa bawa Allah. Jangan pernah sekalipun memolitisasi agama untuk kekuasaan."

Kepala Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina Arif Susanto mengkaji penyebab penguatan politik identitas selama pilkada.

"Pertanyaannya sekarang mengapa perbedaan identitas di Pilkada DKI mudah sekali memantik konflik? Padahal kalau ditelusuri, perbedaan etnis kan sudah ada sejak dulu," ujar Arif.

Menurutnya, pertarungan politik di Pilkada Jakarta sudah membiarkan dua aspek utama berdemokrasi dikesampingkan. Dua aspek itu ialah prinsip kesetaraan dan prinsip keberagaman. Akibatnya, sentimen keagamaan menjadi bola liar yang bergulir tanpa kendali. Terlebih, partai politik gagal menjalankan peran mendidik rasionalitas masyarakat.

"Padahal negara dibangun dengan paham yang pluralis. Sayangnya, parpol parpol sekarang hanya berperan sebagai broker yang mengharapkan feedback electoral usai Pilkada," ujar Arif. (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya