Peringati Usia ke-72, GMNI Serukan Konsolidasi Nasional Kawal Keadilan Sosial

Rahmatul Fajri
12/4/2026 13:08
Peringati Usia ke-72, GMNI Serukan Konsolidasi Nasional Kawal Keadilan Sosial
Ilustrasi(Dok Istimewa)

GERAKAN Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) merayakan Dies Natalis ke-72 dengan menggelar refleksi ideologis di Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Jakarta, Sabtu (11/4/2026). Momentum ini ditegaskan sebagai titik tolak penguatan komitmen organisasi dalam menjawab tantangan kebangsaan melalui ajaran Marhaenisme Bung Karno.

Ketua Umum DPP GMNI, M. Risyad Fahlefi menyatakan bahwa usia 72 tahun bagi GMNI merupakan simbol perjalanan panjang pengabdian dan penjagaan terhadap api perjuangan di tengah pergolakan zaman yang kian dinamis.

“Tujuh puluh dua tahun bukan sekadar perjalanan waktu, tetapi perjalanan ideologi, perjalanan pengabdian, dan perjalanan menjaga api perjuangan agar tetap menyala,” kata Risyad melalui keterangannya, Minggu (12/4/2026).

Risyad menyoroti isu krusial mengenai kemandirian ekonomi. Ia mengingatkan kembali pesan Proklamator Bung Karno bahwa kemerdekaan politik tidak akan berarti tanpa adanya kedaulatan ekonomi.

Risyad menekankan bahwa Pasal 33 UUD 1945 harus dipandang sebagai manifestasi semangat gotong royong, bukan sekadar norma hukum di atas kertas. Menurutnya, di tengah arus globalisasi dan dominasi kapitalisme, negara harus memiliki keberanian untuk mengelola sumber daya sendiri.

“Negara harus hadir. Kemandirian ekonomi tidak lahir dari liberalisasi tanpa batas, melainkan dari keberanian mengelola sumber daya sendiri. Bung Karno telah mengingatkan kita bahwa kemerdekaan politik tanpa kemandirian ekonomi hanyalah ilusi,” tuturnya.

Risyad juga mengajak seluruh kader GMNI untuk tidak terjebak dalam sikap pesimisme melihat tantangan bangsa saat ini. Ia mendorong kader untuk menjadi solutif dan tetap menjadi pelopor dalam memperjuangkan keadilan sosial bagi rakyat.

“Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. GMNI sebagai organisasi kader ideologis memiliki tanggung jawab sejarah. Kita harus menjadi pelopor, penggerak, dan penjaga api ideologi bangsa,” ucap Risyad.

Acara Dies Natalis ke-72 ini juga berfungsi sebagai ruang konsolidasi nasional bagi jajaran pengurus Dewan Pimpinan Umum (DPP) dan kader dari berbagai daerah. Melalui perayaan ini, GMNI mempertegas perannya sebagai kekuatan moral dan intelektual dalam mengawal arah pembangunan nasional agar tetap berpihak pada kepentingan rakyat kecil (Marhaen).

“Momentum ini adalah refleksi sekaligus konsolidasi. Kita harus bertanya: apakah kita sudah cukup setia pada cita-cita Bung Karno?” pungkasnya.(H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya