Energi Positif Perangi Korupsi

MI/ARIF HULWAN
26/2/2015 00:00
Energi Positif Perangi Korupsi
(MI/PANCA SYURKANI)
TIADA kening yang berkerut, muka masam, bibir melengkung ke bawah, ataupun bahasa tubuh lain yang menyiratkan ketegangan dan kemarahan pada pertemuan KPK, Polri, Kejaksaan Agung, dan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, kemarin.

Energi positiflah yang menyeruak. Energi positif berhasil dibangun Jokowi dalam pertemuan tertutup dengan tiga pimpinan institusi penegak hukum itu. Mereka ialah Plt Ketua KPK Taufiequrachman Ruki, Jaksa Agung HM Prasetyo, dan Wakapolri yang juga calon Kapolri Komjen Badrodin Haiti.

Dalam jumpa pers seusai pertemuan, suasana juga terlihat menyejukkan. Presiden menyampaikan hasil pertemuan bahwa dirinya sebagai Kepala Negara meminta KPK serta memerintahkan Kejaksaan Agung dan Polri lebih serius memberantas korupsi dan menyingkirkan ego lembaga.

''Intinya saya meminta KPK serta saya perintahkan Jaksa Agung dan Kapolri untuk terus berkoordinasi dan berkonsolidasi saling membantu agar penanganan pemberantasan korupsi ini segera kembali dilakukan, ditingkatkan lagi,'' ujar Presiden.

Jokowi menggarisbawahi kerja sama penanganan pada kasus-kasus yang sangat merugikan negara. ''Contoh kecil, illegal logging, illegal fishing, illegal mining, itu (merugikan negara) triliunan (rupiah). Namun, saya enggak tahu siapa yang melakukan. Itu urusan pimpinan-pimpinan.''

Ia menambahkan, tindakan pencegahan tetap mesti didahulukan. Tak melulu mengandalkan pemberantasan. Keduanya mesti seiring demi menekan korupsi yang sudah menghalangi kemajuan Indonesia.

Keniscayaan

Prasetyo menyatakan pihaknya bakal melakukan pertemuan lanjutan untuk membahas detail teknis pola kerja sama ketiga lembaga itu dalam pemberantasan korupsi. ''Tindak pidana korupsi sudah menggurita sehingga tidak mungkin hanya ditangani satu instansi aparat penegak hukum. Sinergitas ketiga penegak hukum sangat (menjadi) keniscayaan, baik KPK, Kejaksaan, maupun Polri.''

Hal yang sama diutarakan Ruki dan Badrodin. "Sesuai amanat Presiden Jokowi kepada tiga lembaga ini agar tidak lagi ada ego sektoral, tetapi lebih sinergi, koordinasi, dan saling memperkuat kinerja, khususnya pemberantasan korupsi," tandas Ruki.

Ruki mengatakan KPK, Polri, dan Kejaksaan Agung akan mencari solusi permasalahan terkait dengan kasus hukum yang membelit ketua nonaktif KPK Abraham Samad, wakil ketua nonaktif Bambang Widjojanto, dan 21 penyidik KPK. ''Saya ungkapkan kepada kepolisian, please biarkan kami bekerja dalam ketenangan. Kita harapkan kasus yang terkait warga KPK bisa ditangani dengan proper dan objektif.''

Suasana pertemuan antara Presiden dan pimpinan ketiga lembaga penegak hukum kemarin jauh berbeda ketimbang pertemuan di Istana Bogor, Jumat (23/1). Pada pertemuan untuk menyikapi penetapan Komjen Budi Gunawan sebagai tersangka KPK dan penangkapan Bambang Widjojanto oleh Bareskrim tersebut suasana jauh dari cair.

Dalam ketenangan bicaranya pada jumpa pers, Jokowi masih memperlihatkan kening berkerut, lirikan mata, dan ujung bibir tertarik ke bawah pertanda marah. Begitu juga Abraham yang mewakili KPK saat itu menampilkan wajah kecut.

Secara terpisah, anggota Komisi III DPR dari Partai NasDem Patrice Rio Capella mengingatkan KPK, Polri, dan kejaksaan mematuhi permintaan dan perintah Presiden dalam pertemuan kemarin. Ia juga menekankan perlunya pembagian kewenangan yang jelas di antara ketiga lembaga agar tak terjadi lagi gesekan. (Cah/ Nur/X-9)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya