KEDEWASAAN berpolitik Partai Amanat Nasional (PAN) tengah diuji. Partai yang dibidani Amien Rais itu terancam pecah bila gagal mengedepankan politik beradab saat Kongres IV di Bali, 28 Februari hingga 3 Maret nanti.
''Saya berharap kedua kubu yang tengah bersaing memperebutkan kursi Ketua Umum PAN periode 2015-2020 tetap menghargai kompetisi dan tidak melakukan tindakan-tindakan yang intimidatif. Kedepankan politik beradab,'' kata Ketua Fraksi PAN Tjatur Sapto Edy di Jakarta, kemarin.
Sebelumnya, pakar hukum tata negara Margarito Kamis menengarai PAN berada di ambang perpecahan seperti Golkar. ''PAN akan tetap solid atau pecah tergantung pada manuver dari figur calon ketua umum dan timnya serta permainan politik uang,'' imbuh Margarito.
Wakil Sekretaris Jenderal PAN Viva Yoga Mauladi menepis anggapan PAN terancam pecah. Menurutnya, PAN tidak memiliki 'anak durhaka' yang berpotensi memicu dualisme kepemimpinan jika ada pihak yang kalah dalam pencalonan ketua umum periode mendatang.
''Kompetisi antara Hatta Rajasa dan Zulkifli Hasan merupakan kompetisi persaudaraan, bukannya saling membunuh. Persaingan di PAN merupakan bagian dari regenerasi kepengurusan partai yang sasarannya untuk membangun partai menjadi lebih besar,'' tegas Viva Yoga.
Ia menambahkan PAN harus berbenah diri agar bisa menjadi partai besar. Selama ini, sambung Viva Yoga, partai yang didirikan pada 23 Agustus 1998 itu lebih sering berada di tengah alih-alih menjadi pemain utama di kancah politik Indonesia.
''PAN ingin mengubah diri menjadi besar. Semua kader dan simpatisan diimbau mendukung PAN sebagai partai besar,'' imbuhnya.
Kandidat Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan menambahkan ia ingin membuat PAN semakin demokratis dan menjadi milik publik atau masyarakat luas seperti partai-partai di Eropa Barat dan Amerika Serikat (AS).
''Kita tidak mau PAN menjadi partai yang dimiliki segelintir orang. Partai ini juga memiliki tradisi ketua umum memimpin untuk satu periode guna menciptakan regenerasi,'' terangnya. (Ant/Gan/P-5)