BERAWAL dari kelahiran Nah-dlatul Ulama (NU) sebagai ikhtiar keagamaan menghadapi kolonialisme dan persoalan kemasyarakatan pada 1926, NU kini dituntut tetap aktif berkontribusi dalam penyelesaian masalah kebangsaan.
Demikian disampaikan Presiden Joko Widodo ketika memberikan pidato sambutan dalam pembukaan Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama dan Istighosah Menyambut Ramadhan 1436H di Masjid Istiqlal, Jakarta, kemarin.
"Kesadaran tentang kewajiban membela Tanah Air sangat kuat tertanam di hati seluruh bangsa, sebagai konsekuensi keimanan kepada Allah SWT. Hubbul wathon minal iman, mencintai Tanah Air adalah bagian keimanan kita," kata Presiden di hadapan ribuan nahdliyin.
Hadir pula dalam acara itu Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj, Sinta Nuriyah Wahid, Alwi Shihab, Menteri Agama Lukman Hakim Saefudin, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, dan sejumlah menteri Kabinet Kerja.
Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama yang dibuka kemarin merupakan rangkaian dari Muktamar ke-33 NU 1-5 Agustus di Jombang, Jawa Timur.
Muktamar tersebut mengambil tema Meneguhkan Islam Nusantara.
Presiden menyebut kisah perjumpaan para pendiri NU, khususnya Kiai Haji Hasyim Asy'ari dan Kiai Haji Wahab Hasbullah dengan Bung Karno yang terjalin erat.
Di antara mereka tidak ada perbedaan prinsipil dalam memandang masalah-masalah kebangsaan.
Dalam mengisi kemerdekaan, tutur Jokowi, para ulama juga sangat berperan dalam memberi corak rumusan akhir Pancasila.
Corak Islam Indonesia yang disebut Islam Nusantara, sebagai jawaban bagi masa depan Islam dunia, yang menghadirkan semangat persaudaraan dan perlindungan terhadap kaum minoritas dan pihak berbeda agama atau keyakinan.
Presiden berharap para ulama NU melanjutkan kembali jejak sejarah NU, mengambil bagian dalam menjawab tantangan bersama, khususnya pembangunan bangsa.
"Tantangan kita banyak. Berhadapan dengan mafia narkoba, illegal fishing, mafia migas, mafia pangan. Saya harap NU bisa ambil bagian bersama," ujarnya.
Rangkaian acara persiapan muktamar yang sekaligus peringatan 100 tahun NU itu juga dilakukan warga NU di Pasuruan, Jawa Timur.
Kemarin, sekitar 33.000 nahdliyin mengikuti Mlaku Sarungan.
Menteri Tenaga Kerja Hanif Dakhiri dan Ketua Panitia Muktamar NU ke 33 Syaifullah Yusuf ikut ambil bagian dalam acara itu.
Sambil mengenakan sarung dan sandal jepit, mereka bersama para nahdliyin lainnya berjalan keliling Kota Pasuruan.
"Mlaku Sarungan ini menunjukkan kekhasan NU," kata Syaifullah Yusuf, yang juga Wakil Gubernur Jawa Timur itu.
Empat pondok pesantren di Jombang sudah disiapkan menjadi tempat pelaksanaan muktamar, yaitu Tebuireng, Darul Ulum, Tambak Beras, dan Denanyar.