KAPOLRI Jenderal Badrodin Haiti, kemarin, melantik delapan kapolda dan enam pejabat utama Polri. Dalam penilaian Indonesia Police Watch (IPW), peralihan tongkat komando Kepala Polda (Kapolda) kali ini tidak seperti biasanya.
"Peralihan komando kali ini mengindikasikan ada kapolda yang tidak sukses menjalankan tugasnya sehingga harus diganti. Contohnya, Kapolda Nusa Tenggara Barat Sriyono dan Kapolda Jambi Brigjen Bambang Sudarisman," kata Ketua Presidium IPW Neta S Pane, kemarin.
Neta menuturkan jabatan Kapolda NTB harus diisi orang baru karena pada Mei lalu sempat terjadi penyerbuan yang dilakukan oleh anggota Brimob ke markas Polisi Lalu Lintas Polres Bima.
Kepada Media Indonesia, Sriyono kala itu menyebutkan akar permasalahannya hanya persoalan tilang ketika Operasi Patuh Jaya digelar selama dua pekan. Orang yang kena tilang kemudian mengadu ke saudaranya yang merupakan anggota Brimob.
Kemudian di Jambi, Polsek Limun dibakar oleh warga pada dua bulan lalu. Tidak hanya polsek, rumah kepala polsek yang jaraknya berdekatan pun ikut dilalap api.
Penyebabnya ialah polisi yang menembak salah seorang warga hingga tewas. Penembakan dilakukan ketika polisi sedang merazia narkoba. Pihak Polda Jambi mengatakan korban sempat lari ketika razia.
"Kalau di daerah terjadi masalah atau konflik, misal bersinggungan dengan sesama polisi atau dengan TNI, Kapolri harus cegah karena bibit sudah muncul. Begitu ada yang tidak mampu pimpin wilayah hukumnya, harus dicopot. Entah Kapolda itu satu angkatan di Akademi Kepolisian (Akpol) atau adik bimbingan, harus dicopot," kata Neta.
Sementara itu, saat melantik di Ruang Rapat Utama Mabes Polri, Badrodin menyoroti perlunya Polri segera melakukan pembenahan internal guna memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga itu.
Secara terbuka Kapolri mengatakan hingga kini masih terjadi penyimpangan dan pelanggaran yang dilakukan oleh anggota Polri. Salah satunya, sikap polisi yang arogan sehingga membuat masyarakat tidak simpati.
"Masih banyak hal yang harus kita lakukan dan benahi, baik operasional maupun bidang pembinaan, di antaranya menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap Polri yang harus terus kita upayakan melalui kinerja satuan masing-masing," kata Kapolri.
Sikat premanisme Seusai dilantik, Kapolda Metro Jaya Irjan Tito Karnavian berjanji akan memberangus aksi kriminalitas demi memberikan rasa aman kepada warga Ibu Kota.
"Saya sudah 18 tahun di Polda Metro Jaya. Saya paham peta dan taktik. Kita akan lakukan tindakan tegas. Tegas itu, cari bukti lalu kita ajukan ke pengadilan," katanya kepada wartawan.
Tito juga tidak segan memproses anggota organisasi kemasyarakat (ormas) yang terlibat aksi premanisme dan meresahkan masyarakat. Pola penindakan terhadap ormas dilakukan dengan dua cara, yakni persuasif dan penegakan hukum.
Selain persoalan kriminalitas, lanjut dia, ada empat prioritas kerja yang wajib dilaksanakan, antara lain pengamanan pemilihan kepala desa (pilkades) di Tangerang, pengamanan Ramadan dan Operasi Ketupat Jaya, pembenahan internal, dan penanganan kemacetan. (Gol/P-1)