Pemimpin Harus Berani tidak Populer

Arif Hulwan
03/6/2015 00:00
Pemimpin Harus Berani tidak Populer
(MI/SUSANTO)
HARI lahir Pancasila menjadi pengingat bahwa dibutuhkan perjuangan untuk menyejahterakan warga.

Momen tersebut juga harus menjadi pengingat bahwa perjuangan tidak selamanya bisa menyenangkan semua orang dan berpotensi menurunkan popularitas sang pemimpin.

Hal tersebut disampaikan Joko Widodo, Presiden RI, di acara peringatan Hari Lahir Pancasila di alun-alun Kota Blitar, Jawa Timur, Senin (1/6). Jokowi dengan tegas mengatakan tujuan perjuangan bukanlah popularitas pemimpin.

"Namun, apakah rakyat di perbatasan, di pulau terluar, pembantu rumah tangga, pedagang kecil, buruh, petani, atau tukang cuci pakaian, dan rakyat kecil lainnya merasakan kemerdekaan yang benar-benar berdaulat," cetus Jokowi.

Soal pentingnya perjuangan itu, Presiden menyitir pidato Bung Karno pada saat mengumandangkan ide Pancasila di depan forum Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), 1 Juni 1945, bahwa konsep hidup tak akan berguna tanpa diperjuangkan dalam tindakan nyata.

"Tidak ada satu weltanschauung (ideologi) dapat menjadi kenyataan, menjadi realitiet, jika tidak dengan perjuangan!" seru Jokowi menyitir Bung Karno.

Ia pun menyarankan dua resep dalam perjuangan itu. Pertama, persatuan.

Menurutnya, tak ada hal besar yang bisa dicapai sendirian.

Begitupun Indonesia sendiri bukan negara yang diperuntukkan bagi satu kelompok saja.

Kerja bareng yang erat mesti hadir.

Kedua, keberanian untuk menjebol kesakitan masyarakat sampai ke akar-akarnya.

Ia kembali menyitir pidato Bung Karno karena yang perlu diubah dari Indonesia ialah mulai dari mental sebagian besar rakyat yang terjajah. Untuk itu, keberanian untuk menjebol jadi kuncinya.

Masih dari Blitar, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan mencanangkan gerakan Ini Indonesia Baru sebagai cara baru mengingatkan pentingnya nilai-nilai kebangsaan serta mengajak seluruh elemen bangsa kembali kepada jati diri Indonesia.

"Gerakan Ini Indonesia Baru bertujuan merangkul seluruh komponen masyarakat agar menyadarkan kembali nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari," katanya di Blitar.

Jadi momentum

Dari Jakarta, Garda Pemuda NasDem berharap Hari Lahir Pancasila menjadi momentum pemerataan hak politik warga Indonesia.

Hal itu tercetus saat apel peringatan Hari Lahirnya Pancasila di Tugu Proklamasi, Jakarta, Senin (1/6).

Ketua DPP NasDem Victor Laiskodat mengatakan saat ini masih ada kesenjangan politik antara mayoritas dan minoritas serta pusat maupun daerah.

"Hal tersebut harus bisa diperbaiki, sesuai semangat persatuan dan keadilan yang tergambar di Pancasila," imbuhnya.

Menurutnya, anak yang lahir di mana pun punya hak yang sama untuk menjadi pemimpin.

"Kami bawakan pikiran, bukan popular vote, melainkan electoral vote per dapil. Dengan demikian, suku bangsa apa pun punya hak yang sama," papar Laiskodat saat menjadi inspektur upacara.

Apel Garda Pemuda NasDem yang diikuti ratusan orang berlangsung aman dan tertib.

Mereka pun menyatakan siap mendukung dan menjalankan bulir-bulir Pancasila dalam kehidupan nyata.

Selain kegiatan apel, acara lainnya ialah penyaluran bantuan ke panti asuhan yang tersebar di Jakarta.

"Ini salah satu tindak nyata semangat Garda Pemuda NasDem untuk bernegara dengan Pancasila sebagai landasan ideologi bangsa," tandasnya. (Uta/P-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya